Haerti Thyo
Wikipedia
Hasil penelusuran
Sabtu, 31 Maret 2018
Sabtu, 11 Juni 2016
Sabtu, 03 Januari 2015
MAKALAH
BIOLOGI
REKAYASA
GENETIKA DALAM BIDANG PERIKANAN
OLEH:
HAERTI
1422010582
BUDIDAYA
PERIKANAN (A)
POLITEKNIK
PERTANIAN NEGERI PANGKEP
2014/2015
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kami semua. Salawat serta salam tak lupa kami sampaikan
kepada penghulu alam Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam
kebodohan kepada alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Hormat kami sebagai penyusun makalah ini kepada Ibu Dr. Nur Rahmawaty Arma,
S.Pi, M.Sc selaku Dosen mata kuliah Biologi yang telah membimbing kami sehingga
makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Penyusun berharap dengan adanya
makalah ini,
mahasiswa dapat menjadikannya sebagai
pedoman nantinya. Untuk itu penyusun
mengharapkan kritik beserta
saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini.
I. PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Perkembangan
IPTEK adalah sebuah fenomena dan fakta yang jelas dan pasti terjadi sebagai
sebuah proses yang berlangsung ecara terus-menerus bagi kehidupan global yang
juga yang tidak mengenal istilah berhenti. Dalam merespon perkembangan IPTEK terjadi
perubahan yang mustahil untuk dilakukan, seperti halnya dengan rekayasa
genetika. Rekayasa Genetika akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang cukup
drastis dan meminta perhatian yang cukup serius dikalangan manusia pada
umumnya.
Melalui rekayasa genetika dan produk-produk yang
dihasilkannya telah menantang gagasan tradisional mengenai hakekat kehidupan
dan memunculkan berbagai persoalan, pertanyaan-pertanyaan etis, dan tingkat
kekhawatiran manusia yang sangat mencemaskan terhadap seluruh perkembangan dan
hasil rekayasa genetika tersebut. Jika dianalisa kemajuan dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang telah dicapai dewasa ini, seharusnya
semakin memberi kepuasan untuk hidup sehingga menghasilkan kehidupan yang lebih
baik daripada sebelumnya. Akan tetapi, kenyataan taklah demikian, terkadang
penemuan ini dijadikan ajang pemanfaatan makhluk hidup. Banyak sekali penemuan
genetika yang tidak masuk akal yang menyebabkan spesies baru yang tercipta
kehilangan nilai gunanya bagi kehidupan.
II. PEMBAHASAN
A.
Defenisi
Rekayasa Genetika
Rekayasa
genetika dapat diartikan sebagai kegiatan manipulasi gen untuk mendapatkan
produk baru dengan cara membuat DNA rekombinan melalui penyisipan gen. DNA
rekombinan adalah DNA yang urutannya telah direkombinasikan agar memiliki
sifat-sifat atau fungsi yang kita inginkan sehingga organisme penerimanya
mengekspresikan sifat atau melakukan fungsi yang kita inginkan.
Dalam arti paling luas rekayasa genetika adalah
penerapan genetika untuk
kepentingan manusia. Dengan pengertian ini kegiatan pemuliaan hewan atau tanaman
melalui seleksi dalam populasi dapat dimasukkan. Demikian pula penerapan mutasi buatan tanpa target dapat
pula dimasukkan. Walaupun demikian, masyarakat ilmiah sekarang lebih bersepakat
dengan batasan yang lebih sempit, yaitu penerapan teknik-teknik biologi molekular
untuk mengubah susunan genetik
dalam kromosom atau
mengubah sistem ekspresi genetik yang diarahkan pada kemanfaatan
tertentu. Obyek rekayasa genetika mencakup hampir semua golongan organisme, mulai dari bakteri, fungi, hewan tingkat rendah, hewan
tingkat tinggi, hingga tumbuh-tumbuhan. Bidang kedokteran dan farmasi paling banyak
berinvestasi di bidang yang relatif baru ini. Sementara itu bidang lain,
seperti ilmu pangan, kedokteran hewan, pertanian (termasuk peternakan dan perikanan), serta teknik lingkungan juga telah
melibatkan ilmu ini untuk mengembangkan bidang masing-masing.
Satu
demi satu ditemukan teknologi baru untuk memperbaiki kehidupan manusia agar
lebih nyaman, lebih menyenangkan, dan lebih memuaskan. Seiring
dengan kemajuan biologi molekuler sekarang ini memungkinkan ilmuwan untuk
mengambil DNA suatu spesies karena DNA mudah diekstraksi dari sel-sel. Kemudian
disusunlah suatu konstruksi molekuler yang dapat disimpan di dalam laboratorium.
DNA yang telah mengalami penyusunan molekuler dinamakan DNA rekombinan
sedangkan gen yang diisolasi dengan metode tersebut dinamakan gen yang diklon.
Gambar
1. Proses kerja DNA
B.
Sejarah
Rekayasa Genetika
Sejarah
perkembangan genetika sebagai ilmu pengetahuan dimulai menjelang akhir abad
ke-19 ketika seorang biarawan Austria bernama Gregor Johann Mendel berhasil
melakukan analisis yang cermat dengan interpretasi dan diberi julukan sebagai
bapak genetika. Teknologi rekayasa genetika ini bertujuan untuk membantu
menciptakan produk dan organisme baru yang bermanfaat.
Semenjak saat itu
hingga lebih kurang pertengahan abad ke-20 berbagai percobaan persilangan atas
dasar prinsip-prinsip Mendel sangat mendominasi penelitian di bidang genetika.
Hal ini menandai berlangsungnya suatu era yang dinamakan genetika klasik. Pada
awal abad ke-20 ketika biokimia mulai berkembang sebagai cabang ilmu
pengetahuan baru, para ahli genetika tertarik untuk mengetahui lebih dalam
tentang hakekat materi genetik, khususnya mengenai sifat biokimianya. Pada
tahun 1920-an, dan kemudian tahun 1940-an, terungkap bahwa senyawa kimia materi
genetik adalah asam deoksiribonukleat (DNA). Dengan ditemukannya model struktur
molekul DNA pada tahun 1953 oleh J.D. Watson dan F.H.C. Crick dimulailah era
genetika yang baru, yaitu genetika molekuler.
Perkembangan
penelitian genetika molekuler terjadi demikian pesatnya. Jika ilmu pengetahuan
pada umumnya mengalami perkembangan dua kali lipat dalam satu dasawarsa, maka
waktu yang dibutuhkan untuk itu (doubling time) pada genetika
molekuler hanyalah dua tahun! Bahkan, perkembangan yang lebih
revolusioner dapat disaksikan semenjak tahun 1970-an, yaitu pada saat
dikenalnya teknologi manipulasi molekul DNA atau teknologi DNA rekombinan atau
dengan istilah yang lebih populer disebut sebagai rekayasa genetika.
Pada dasarnya rekayasa genetika dianggap
sebagai suatu impian atau khayalan saja. Akan tetapi, kini kemampuan untuk
mencangkokkan bahan genetika dan membongkar kembali informasi keturunan
memberikan hasil nyata dan terbukti sangat bermanfaat. Sejarah rekayasa
genetika dimulai sejak Mendel menemukan faktor yang diturunkan. Ketika Oswald
Avery (1944) menemukan fakta bahwa DNA membawa materi genetik, makin banyak
penelitian yang dilakukan terhadap DNA. Ilmu terapan ini dapat dianggap sebagai
cabang biologi maupun sebagai ilmu-ilmu rekayasa (keteknikan). Dapat dianggap,
awal mulanya adalah dari usaha-usaha yang dilakukan untuk menyingkap material
yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Ketika orang
mengetahui bahwa kromosom adalah material yang membawa bahan terwariskan itu
(gen) maka itulah awal mula ilmu ini. Gen bekerja menumbuhkan karakter yang
bekerjasama dengan lingkungan, berupa hormon, mineral,air,sinar matahri
membentuk karakter lewat reflikasi dan traskripsi. Para ahli berusaha melawan
gen-gen perusak dalam inti sel dengan berbagai cara rekayasa genetika. Upaya
yang dirintis tersebut dikenal dengan istilah terapi genetik. Terapi genetik
adalah perbaikan kelainan genetik dengan memperbaiki gen. Hal inilah yang
melatar belakangi diciptakannya rekayasa genetika dengan berbagai tujuan dengan
melewati proses-proses tertentu.
Gambar 2. Rekayasa Genetika
C.
Hasil
Rekayasa Genetika
Rekayasa
genetika telah merambah di berbagai bidang, tidak terkecuali bidang perikanan
yang menghasilkan ikan kualitas unggul, sebagai contoh antara lain:
Ikan zebra yang biasanya berwarna perak dengan garis-garis hitam keunguan, setelah disisipi dengan gen warna ubur-ubur yang disuntikkan ke telur ikan-ikan zebra maka dapat mengeluarkan warna hijau atau merah dari tubuhnya. Gen pemicu dari ubur-ubur akan mengaktifkan pancaran cahaya pada ikan bila ikan berada dalam lingkungan yang mengandung bahan polutan tertentu.
Gambar
3. Hasil rekayasa genetika pada ikan
III. PENUTUP
A.
Kesimpulan
Rekayasa
genetika adalah suatu kemajuan dibidang IPTEK yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan
tingkat fungsional dari suatu makhluk hidup atau organisme. Rekayasa genetika modern menggunakan teknologi DNA rekombinan.
Rekombinasi dilakukan di luar sel organisme, sehingga dimungkinkan untuk
memodifikasi gen-gen spesifik dan memindahkannya di antara organisme yang
berbeda seperti bakteri, tumbuhan dan hewan ataupun dapat mencangkok (kloning)
hanya satu jenis gen yang diinginkan dalam waktu cepat. DNA rekombinan yang
diproduksi dengan cara buatan itu dapat berbahaya jika tidak disimpan secara
layak dan tindakan pencegahan yang ketat perlu diterapkan pada pekerjaan
semacam ini.
B.
Saran
Adapun
saran dari kami untuk perlakuan rekayasa genetika yaitu:
1.
Rekayasa genetika sebaiknya digunakan
sebagaimana mestinya.
2.
Hendaknya masyarakat diberi pengetahuan yang
lebih mengenai rekayasa genetika karena banyak masyarakat yang belum mengetahui
seperti apa rekayasa genetika itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Minggu, 29 Desember 2013
laporan pakan buatan
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Pengertian
Pakan Buatan
Pakan merupakan sumber energi bagi pertumbuhan dan
kehidupan makhluk hidup. Pakan Buatan adalah pakan yang dibuat dengan formulasi
tertentu berdasarkan pertimbangan pembuatnya. Pembuatan pakan buatan sebaiknya
didasarkan pada pertimbangan kebutuhan nutrisi ikan, sumber dan kualitas bahan
baku, serta nilai ekonomis. Dengan berbagai pertimbangan tersebut, diharapkan
dapat menghasilkan pakan ikan yang memiliki standar mutu tinggi dengan biaya
yang murah.Pakan buatan ini biasanya dinamakan pellet. Pellet
untuk ikan terbagi kedalam 2 jenis, yaitu pellet terapung
dan pellet tenggelam.
B.
Manfaat
dan Fungsi Pakan Buatan
Bagi semua makhluk hidup, pakan mempunyai manfaat yang sangat penting sebagai
sumber energi untuk pemeliharaan tubuh, pertumbuhan dan perkembangbiakan. Selain itu, pakan juga dapat digunakan, misalnya
untuk menghasilkan warna dan rasa tertentu. Ikan
memenuhi kebutuhan engerginya dari pakan buatan. Namun, bukan hanya itu, ada beberapa
fungsi pakan bagi pertumbuhan dan perkembangan ikan antara lain:
1. Fungsi
Pakan Pada Ikan Sebagai Pengobatan
Pada dasarnya, ikan yang memperoleh kecukupan pakan
dengan kualitas dan kuantitas yang memadai akan tumbuh dengan baik dan tidak
mudah terserang penyakit. Pakan akan membantu terciptanya sistem ketahanan
tubuh pada ikan. Sistem ketahanan tubuh tersebut akan menciptakan imunitas atau
kekebalan terhadap serangan penyakit, dan sangat dipengaruhi oleh sistem
hormonal. Sementara mekanisme sistem hormonal sangat dipengaruhi oleh kualitas
pakan yang dikonsumsi. Dengan demikian, apabila pakan yang dikonsumsi
berkualitas baik, maka sistem hormonal juga akan berjalan dengan baik dan
dengan sendirinya akan terbentuk sistem ketahanan tubuh yang baik pula.
2. Fungsi
Pakan Pada Ikan Sebagai Pembentuk Warna Tubuh
Salah satu fungsi pakan bagi ikan adalah sebagai
pembentuk warna tubuh atau pigmen. Biasanya fungsi pakan tersebut terkandung
dalam pakan buatan dan dimanfaatkan dalam budidaya ikan hias. Pakan buatan yang
digunakan untuk membentuk warna tubuh pada ikan tidak beda jauh dengan pakan
buatan lainnya, hanya ditambah dengan pigmen.
Pakan buatan yang diperkaya dengan pigmen mudah dibedakan
karena memiliki warna yang khas, biasanya berwarna hijau atau merah. Selain
itu, keterangan yang menyebutkan adanya tambahan pigmen biasanya juga tertera
pada kemasan. Ikan yang diberi pakan dengan kandungan pigmen yang proporsional
akan memiliki warna tubuh yang lebih cemerlang dan tajam.
3. Fungsi
Pakan Pada Ikan Untuk Mempercepat Reproduksi
Fungsi lain dari pakan buatan adalah untuk membantu
mempercepat proses pematangan gonad sehingga proses reproduksi bisa dipercepat.
Pakan yang baik akan menunjang kerja organ tubuh sehingga dapat bekerja lebih
baik, termasuk sistem hormon dan endokrin. Sistem endokrin sangat membantu
proses reproduksi, yaitu dengan cara mengatur pengangkutan hormon reproduksi
menuju organ reproduksi.
4. Fungsi
Pakan Pada Ikan Untuk Perbaikan Metabolisme Lemak
Ikan lebih mudah mencerna protein untuk memenuhi
kebutuhan energinya daripada mencerna lemak atau karbohidrat. Kondisi ini
kurang menguntungkan, mengingat sebaiknya protein diperuntukkan bagi
pertumbuhan, sedangkan energi diperoleh dari lemak dan karbohidrat.
C.
Bentuk-Bentuk
Pakan dan Kegunaannya
Bentuk pakan buatan untuk ikan perlu disesuaikan dengan kebiasaan makan dan
umur ikan yang dipelihara, contohnya sebagai berikut :
1)
Larutan
Bentuk
makanan ini cocok untuk burayak ikan dan udang umur 3 -20 hari. Larutan
dibedakan menjadi dua jenis yaitu emulsi dan suspensi. Pada bentuk emulsi,
bahan-bahan yang terlarut menyatu dengan air pelarutnya sehingga berkesan
kental, misalnya air hujan dan tajin. Sedangkan pada suspensi, bahan yang terlarut
tidak menyatu dengan air pelarutnya contohnya minuman kopi.
2)
Tepung/fowder
Bentuk tepung dibagi menjadi dua, yaitu tepung
halus dan tepung kasar. Tepung halus dapat diberikan pada burayak umur 20 – 40
hari sedangkan tepung kasar cocok untuk gelondongan umur 40 – 120 hari.
3)
Pellet
Pellet
adalah bentuk pakan buatan yang terdiri dari beberapa macam bahan yang dicampur
dan dijadikan adonan. Kemudian adonan itu dicetak sehingga bentuknya berupa batangan
kecil yang panjangnya 1 – 2 cm. Tetapi dengan berkembangnya teknologi sekarang
ini terdapat alat pencetak pellet berkapasitas besar yang
menghasilkan pellet berbentuk bulatan dengan diameter yang dapat diatur sesuai
dengan kebutuhan. Pellet dapat diberikan pada ikan
yang berumur lebih dari 120 hari.
4)
Remah/crumble
Bentuk remah
biasanya berasal dari bentuk pellet yang dihancurkan sehingga menjadi butiran
kasar. Bentuk remah cocok untuk ikan berumur 80 – 120 hari. Apabila remah
dihancurkan, maka akan didapatkan bentuk tepung. Untuk memisahkan tepung halus dan
kasar dilakukan dengan pengayakan.
5)
Lembaran
Bentuk wafer
atau lembaran dapat dibuat dari emulsi. Pakan emulsi dihamparkan diatas aluminium hingga menjadi lapisan yang tipis. Kemudian lapisan itu
dijemur sampai membentuk lembaran. Lembaran kering tersebut apabila diremas
akan menghasilkan kepingan-kepingan kecil. Umumnya beberapa jenis ikan hias
menyukai pakan bentuk lembaran ini.
BAB II
JENIS-JENIS BAHAN BAKU
PAKAN BUATAN
Beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan bahan baku pakan
buatan adalah mengenal jenis-jenis dan cara memilihnya. Berdasarkan sumbernya,
dikenal dua kelompok bahan makanan untuk ikan yaitu bahan hewani dan bahan
nabati. Selain itu, ada pula bahan baku yang digunakan yakni bahan baku
tambahan. Dalam pembuatan pakan ikan (pellet) bahan baku yang digunakan harus
memenuhi syarat, yakni :
-
Bergisi
-
mudah didapat
-
mudah dibuat
-
harganya relatip murah
-
tidak mengandung racun
-
bukan merupakan makanan pokok bagi
manusia
A.
Bahan
Hewani
1. Tepung Ikan
Tepung ikan yang baik berasal dari jenis
ikan dengan kadar lemak yang rendah. Bau khusus suatu jenis ikan akan
mempengaruhi daya tariknya. Untuk meningkatkan bau yang merangsang ini,
ikan dapat difermentasikan lebih dahulu menjadi bekasem. Biasanya yang menjadi bahan baku penting dalam pembuatan tepung ikan ini
adalah ikan-ikan rucah dan sisa-sisa pengolahan.
Tepung ikan tidak bisa disimpan
terlalu lama (11-12 bulan), karena akan mengurangi kandungan linsinnya sampai
8%. Lisin ini adalah asam amino esensial yang paling esensial.
Selain itu penyimpanan yang lama akan menimbulkan bakteri dan cendawan yang
merusak.
Untuk membuat tepung ikan,
pertama-tama ikan direbus untuk mengeluarkan lemaknya. Kemudian diperas
atau dipress lalu dijemur. Ampasnya digiling menjadi tepung sedangkan
airnya dapat dibuat petis.
2. Tepung Rebon
dan Benawa
Rebon adalah sejenis udang kecil,
sedangkan benawa adalah anak kepiting laut. Mereka banyak bermunculan
pada awal musim hujan di sekitar muara sungai, mengerumuni benda-benda yang
terapung.
Untuk membuat tepung rebon dan benawa
mula-mula diseduh dengan air panas atau direbus kemudian diperas. Setelah
itu dijemur sampai kering lalu digiling sampai menjadi tepung.
3. Tepung
Kepala Udang
Kepala udang
merupakan limbah pada proses pengolahan udang untuk ekspor. Udang besar
biasanya hanya dipotong kepalanya saja, sedangkan udang kecil kadang dikupas
kulitnya juga. Pembuatan tepung diawali dengan perebusan sampai masak dan
dijemur. Setelah kering, kepala udang dapat digiling sampai menjadi
tepung. Untuk menghilangkan chitin yang dapat mengganggu, maka tepung
diayak dulu.
4. Tepung Anak
Ayam
Anak-anak ayam jantan merupakan limbah,
sehingga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pakan buatan. Sebelum diolah,
anak-anak ayam dimatikan secara massal dengan memasukkannya ke dalam kantong
kedap udara. Setelah mati, bulu-bulunya dibakar dengan lampu semprot
kemudian direbus setengah matang. Setelah diangin-anginkan, digiling
dengan gilingan daging sampai menjadi pasta. Agar hasilnya lebih
halus, penggilingan dapat dilakukan berulang-ulang.
Pasta hasil gilingan tersebut dapat
langsung dicampur dengan bahan lain pembuatan pakan atau dapat dijadikan tepung
dulu. Caranya dengan dikeringkan dahulu lalu digiling.
5. Tepung
Kepompong Ulat Sutra
Kepompong ulat sutra adalah
limbah dari pembuatan sutra. Karena dalam proses pemintaian tersebut kepompongnya
direndam dengan air panas, maka kepompongnya sudah dalam keadaan mati.
Kepompong yang sudah mati dijemur lalu digiling menjadi tepung.
6. Ampas Minyak
Hati Ikan
Minyak ikan merupakan hasil pengolahan dari hati ikan, antara lain ikan
cucut, ikan pari, ikan tuna dan lain-lain. Sebelum diambil minyaknya, hati
ikan dibuang empedunya, dicuci dan kemudian dipotong kecil. Setelah itu
dikukus sampai minyaknya menetes keluar. Hati yang telah masak itu
selanjutnya diperas minyaknya sampai tuntas. Ampasnya masih mengandung lemak
yang tinggi sehingga sukar dikeringkan. Oleh karena itu biasanya
digunakan dalam keadaan basah sebagai pasta. Tapi agar
lebih halus, perlu digiling lagi dengan alat penggiling daging, hingga
membentuk pellet. Pellet hati
ikan yang masih basah itu dapat langsung dicampurkan pada bahan ramuan lainnya.
7. Tepung Darah
Salah satu limbah dari rumah pemotongan
ternak adalah darah. Darah segar yang sudah beku tapi masih mentah itu
mula-mula dimasak baru dikeringkan dan digiling menjadi tepung.
Walaupun kandungan proteinnya cukup
tinggi, tapi proteinnya termasuk dalam jenis yang sukar dicerna. Oleh karena itu jumlah penggunaannya dalam ramuan makanan perlu
dibatasi. Untuk ikan sebaiknya tidak lebih dari 3% sedangkan untuk udang
dapat mencapai 15%.
8. Silase Ikan
Silase
adalah hasil olahan cair dari bahan baku asal ikan atau limbahnya. Proses
pengolahannya dilakukan dengan memanfaatkan enzim-enzim yang terdapat dalam
tubuh ikan itu sendiri. Untuk membantu mempercepat prosesnya serta untuk
mencegah tumbuhnya bakteri dan cendawan , maka perlu ditambah asam, yaitu asam
formiat dan asam propionate.
Bahan cair yang bersifat asam itu dapat
dicampur dengan dedak, tepung ketela pohon atau tepung jagung. Setelah
dicampur kemudian dikeringkan dan selanjutnya digunakan utnuk campuran dalam
ramuan makanan.
Pembuatan silase tersebut dimulai dengan
mengumpulkan bahan bakunya berupa ikan rucah dan limbah produksi
pengolahan. Setelah itu dicuci bersih dan dicincang kecil. Kemudian
digiling dengan alat penggiling daging. Hasil gilingannya kemudian
direndam dalam larutan asam formiat 3% selama 24 jam. Setelah itu
diangkat dan diperas cairannya sampai tuntas.
Air perasannya yang tercampur minyak
ditampung kemudian minyak yang mengapung di bagian atas disingkirkan.
Cairan yang telah bebas minyak itu kemudian dicampur lagi dengan
ampasnya. Untuk mencegah tumbuhnya bakteri dan cendawan, ditambahkan asam
propionate sebanyak 1%. Dalam keadaan yang asam dengan pH 4,5 itu, silase
akan lebih tahan lama (paling tidak sampai 3 bulan)
Bahan yang telah dicampuri asam itu
kemudian diperam dalam suatu wadah yang tahan asam (misalnya drum
plastik). Diaduk terus sebanyak 3 – 4 kali sehari selama 4
hari. Pada hari kelima biasanya bahan bakunya telah hancur menjadi
cairan, sehingga proses pembuatan silase ikan telah selesai.
9. Arang Bulu
dan Tepung Tulang
Arang bulu anak ayam yang dihasilkan pada
proses pembakaran bulu sebelum anak ayam itu digiling tidak dibuang, tetapi
dikumpulkan. Nantinya dapat dimanfaatkan juga sebagai bahan campuran
ramuan sebagai sumber mineral. Jumlah penggunaannya hanya sedikit, tetapi untuk
udang diperlukan mineral yang lebih banyak daripada ikan.
Tepung tulang, seperti halnya arang bulu,
juga merupakan sumber mineral. Bahan baku untuk membuatnya dapat berasal
ari tulang sapi, kerbau, kambing, dan hewan-hewan ternak lainnya.
10. Tepung
Bekicot
Daging bekicot (siput darat) dapat
dijadikan tepung untuk campuran makanan ikan. Untuk membuat tepung
bekicot, dapat dilakukan dengan mengeringkan daging bekicot mentah atau yang
telah dimasak kemudian digiling.
Untuk campuran
makanan ternak, jumlah penggunaan tepung bekicot dapat mencapai 5 – 15%.
Penggunaan tepung bekicot dari bahan mentah lebih rendah dibandingkan dengan
bekicot yang sudah dimasak.
11. Tepung
cacing Tanah
Cacing tanah
dapat diternakkan secara missal. Hasil panennya dapat dikeringkan dan
kemudian digiling menjadi tepung dan gizinya dapat menggantikan tepung
ikan. Kandungan protein yang tinggi dengan asam-asam amino essensial yang
lengkap. Selain itu cacing tanah juga mudah dicerna, sehingga mudah
diserap oleh dinding usus pemakannya. Jumlah penggunaannya dalam ramuan
dapat berkisar antara 10 – 25%, tergantung pada jenis ikan yang kita beri
makan.
12. Tepung
Artemia
Tepung artemia
dalam ransom makanan ikan dapat menggantikan tepung ikan dan tepung kepala
udang. Daya cernanya cukup tinggi, karena kulitnya sangat tipis (kurang
dari 1 mikron). Kandungan proteinnya tinggi dengan kandungan lemak yang
kaya akan asam-asam lemak essensial.
13. Telur ayam
dan Itik
Telur ayam dan itik sering digunakan
sebagai bahan baku pembuatan makanan untuk burayak ikan dan udang yang biasanya
diberikan dalam bentuk segar atau setelah direbus.
14. Susu
Susu juga sering digunakan sebagai bahan
baku pembuatan makanan burayak ikan dan udang. Biasanya yang dipilih
adalah tepung susu tak berlemaki (susu skim).
B.
Bahan
Nabati
Bahan
yang berasal dari tumbuh-tumbuhan ini banyak mengandung karbohidrat dan relatif
rendah kandungan proteinnya kecuali jenis tanaman kacang-kacangan.
1.
Dedak padi
Yang dipakai sebagai bahan baku
pakan ikan adalahdedak halus (katul) yaitu dedak dari kulit ari padi. Dalam
menggunakan dedak halus, sebelumnya perlu dipilih yang telah benar-benar bersih
dari segala kotoran,misalnya hancuran sekam, pasir, batu kapur, tepung batu dan
lain-lain. Selain itu dedak yang sudah tersimpan lama (lebih dari 3
bulan) biasanya sudah bau tengik dan vitaminnya sudah rusak.
2.
Dedak gandum
Dedak gandum adalah hasil samping dari
perusahaan pengolahan tepung terigu. Ada dua macam dedak gandum, yaitu
yang disebut “sheat pollard” dan “wheat bran”. Yang biasa digunakan untuk
bahan baku pakan ialah “wheat pollard” yaitu dedak dari kulit ari gandum.
Dilihat dari mutunya, dedak gandum lebih
baik dari dedak padi karena kandungan kandungan lemak yang rebih rendah dan
protein serta vitamin yang lebih tinggi. Dedak gandum dari perusahaan
pengolahan tepung terigu di Indonesia mutunya cukup baik, karena gandumnya
didatangkan dari Amerika Serikat, Kanada, dan Australia yang merupakan
penghasil gandum terbaik dunia.
3. Jagung
Tepung jagung dengan kandungan protein ±
90% banyak digunakan dalam pemberian pakan ikan. Susunan zat makanan yang
berasal dari jagung hampir sama dengan bahan yang lain, tetapi bahan
jagung pada umumnya kekurangan akan kandungan asam amino triptopan sehingga
perlu campuran bahan yang lebih banyak mengandunga asam amino tersebut.
Jagung dapat disimpan lama asalkan masih terdapat di dalammnya kulit
jagung. Sifat tahan lama akan berkurang apabila menyimpan dalam bentuk
tepung.
Sebagai bahan makanan ikan, jagung
termasuk sukar dicerna, bahkan dapat menghambat pertumbuhan walaupun tidak
mengganngu kesehatan. Ikan yang
diberi makan jagung produksinya dapat turun 50% atau lebih.
4.
Kacang kedelai
Tepung kedelai merupakan bahan yang
penting untuk menyusun ramuan pakan ikan, sebab menpunyai nilai biologis tinggi
dengan kandungan lisinnya. Kebutuhan ikan
akan lisin sekitar 2% dari berat makanan. Dalam pembuatan pakan
penggunaan tepung kedelai tidak kurang dari 10%. Walaupun biji kedelai
mengandung zat yang dapat menghambat enzim tripsin, tapi kadarnya dapat dihilangkan
dengan proses pemasakan.
5.
Ampas tahu
Dalam penggunaannya, ampas tahu harus
dikeringkan dan dijadikan tepung agar tidak cepat busuk dan basi.
6.
Cantel
Cantel atau
sorgum, warnanya bermacam-macam. Ada yang merah, putih, kecoklatan dan sebagainya.
Dan yang lebih banyak digunakan adalah yang berwarna putih. Sebagai bahan
baku pakan ikan, cantle harus dijadikan tepung terlebih dahulu.
Pada cantel terdapat zat tannin yang dapat
menghambat pertumbuhan. Cantel yang berwarna kelam mengandungn tannin
lebih banyak daripaa yang berwarna pucat. Untuk menghilangkan pengaruh
tannin tersebut, dapat ditambahkan metionin, atau dapat pula dengan penyosohan
yang lebih baik, sehingga kulit arinya terkelupas bersih.
7.
Bungkil kelapa
Bungkil kelapa
merupakan ampas dari pembuatan minyak kelapa. Sebagai bahan ramuan pakan
ikan, jumlahnya dapat mencapai 20% dari seluruh campuran dimana sebelumnya
harus dijadikan tepung.
8.
Bungkil kacang tanah
Bungkil
kacang tanah adalah ampas dari pembuatan minyak kacang. Sebelum digunakan harus dikeringkan dulu dan dijadikan tepung. Bungkil kacang
tanah dapat menyebabkan kurang vitamin dengan gejala keadaan sirip yang tidak
normal. Oleh karena itu penggunaan dalam ramuan ikan harus
dibatasi.
9.
Tepung daun lamtoro
Daun lamtoro (petai cina) juga dapat
dijadikan ramuan untuk pakan ikan yang sebelumnya ditepungkan dahulu. Daun
lamtoro mengandung racun mimosin sehingga penggunaannya harus dibatasi.
10. Biji kapuk
dan randu
Biji kapuk atau randu juga dapat diambil
minyaknya, dan ampasnya dapat digunakan sebagai bahan baku pakan. Tetapi
karena biji kapuk mengandung zat siklopropenoid yang bersifat racun bius,
penggunaannya perlu dibatasi hingga tidak lebih dari 5%.
11. Biji kapas
Biji kapas
adalah ampas dari pembuatan minyak biji kapas. Lemaknya
termasuk bermu baik dengan asam lemak essensial (asam linoleat, asam palmitat
dan asam oleat). Biji kapas mengandung zat gosipol yang bersift sebagai
racun yang mengakibatkan kerusakan pada hati dan pendarahan atau pembengkakan
jarringan tubuh. Sehingga sebelum digunakan barus dimasak terlebih
dahulu.
12. Tepung daun
turi
Tepung daun
turi sering digunakan untuk campuran pakan ikan-ikan herbivore. Tepung
daun turi mengandung vitamin dan mineral. Penggunaan daun turi ditak boleh
terlalu banyak karena mengandung senyawa beracun antara lain zat asam biru
(HCN), lucein dan alkaloid-alkaloid lainnya. Daun turi yang berbungan
merah kadar racunnya lebih tinggi daripada yang berbunga putih.
13. Tepung daun
ketela pohon
Dalam penggunaannya dipilih daun ketela
pohon yang tidak mengandung HCN. Sebelum dicampur dibuat tepung terlebih
dahulu.
14. Isi perut
besar hewan memamah biak
Hewan-hewan ternak ymemamah biak seperti
sapi, kerbau, kambing dan domba, isi perutnya juga dapat digunakan untuk
campuran pakan ikan. Bahan tersebut dapat diperoleh dari rumah pemotongan
ternak. Isi perut yang masih basah harus dikeringkan dan digiling menjadi
tepung.
C.
Bahan
Tambahan
1.
Vitamin dan mineral
Vitamin yang biasa sering digunakan adalah
vitamin dalam bentuk premix misalnya aquamix, Rajamix U, Pfizer Premix A,
Pfizer Premix B, Top mix, Rhodiamix 273 dan lain-lain. Selain mengandung
vitamin, promix-premix tersebut juga mengandung mineral, asam amino essensial
bahkan antioksidan.
Bahan tambahan yang merupakan premix
mineral antara lain adalah mineral-mineral B12. Mineral yang dikandungnya
adalah tepung tulang, kalsium karbonat, besi, sulfat, mangan sulfat, kalium
yodida, tembaga sulfat dan seng oksida. Selain itu juga mengandung
vitamin B12 (sianokolobalamin).
Penggunaan premix vitamin dan mineral
dalam ramuan pakan ikan cukup 1 – 2% saja, tetapi untuk pakan udang, jumlahnya
dapat sekitar 10 – 15%, hal itu disebabkan udang sering moulting yang
membutuhkan banyak mineral.
2.
Garam dapur
Garam dapur (NaCl) seringkali digunakan
sebagai bahan tambahan ramuan pakan dengan jumlah sekitar 2%. Selain
berfungsi sebagai bahan penyedap, garam dapur juga dapat untuk mencegah
terjadinya proses pencucian zat-zat lainnya yang terdapat dalam ramuakan pakan
ikan pada waktu tenggelam dalam air.
3.
Bahan perekat
Beberapa bahan yang berfungsi sebagai
perekat antara lain adalah agar-agar, tepung kanji, tepung terigu, tepung sagu
dan lain-lain. Bahan perekat itu akan menjadi lebih penting untuk pakan
udang, sebab pakan udang harus mempunyai ketahanan yang tinggi untuk tidak
cepat hancur dalam air. Walaupun agar-agar merupakan bahan perekat yang cukup
baik, namun yang lebih banyak digunakan adalah tepung kanji yang apabila
dilarutkan dalam air panas akan menghasilkan larutan kental yang lekat.
Jumlah penggunaan bahan perekat ini dapat mencapai 10%.
4.
Antioksidan
Antioksidan adalah zat antitengik.
Apabila pakan disimpan dalam waktu yang cukup lama, akan berbau tengik terlebih
bila berkada lemak tinggi. Hal tersebut disebabkan terjadinya proses
oksidasi lemak. Pakan yang berbau tengik tersebut mutunya akan rusak dan
ikan pun tidak suka memakannya. Untuk mengatasi proses oksidasi tersebut, dapat
ditambahkan bahan antioksidan antara lain: fenol, vitamin E, vitamin C,
etoksikuin (1,2 dihydro-6-etoxy- 2,2,4 trimethyl-quinoline), BHT (Butylated
hydroxytuluene), dan BHA (Butylated hydroxyanisole).
5. Ragi dan
ampas bir
Ragi adalah
sejenis cendawan yang dapat mengubah karbohidrat menjadi alcohol dan CO2 . Ada
beberapa jenis ragi yaitu : ragi tape, ragi roti dan ragi bir yang secara umum
mengandung zat gizi sebagai berikut : Protein, 59,2%, karbohidrat 38,93%, Abu
4,95% dan air 6,12%. Selain itu ragi juga mengandung vitamin terutama vitamin
B.
Dedak apabila diperam dengan ragi tape
akan meningkat kadar proteinnya walaupun kadar karbohidratnya turun. Selain
penggunaan ragi untuk meragikan bekatul (dedak), ampas bir (yang juga
mengandung ragi) dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan pakan.
Ampas bir yang merupakan limbah dari pabrik bir itu, ternyata banyak
mengandung protein (25,9%) dan juga kaya vitamin B, tapi mengandung serat kasar
yang tinggi (sampai 15%). Untuk ampas bir basah, jumlahnya berkisar antara 3-6%
sedangkan untuk ampas bir kering dapat mencapai 10%.
BAB III
PEMBUATAN PELET
A.
Alat
Beberapa alat
yang digunakan dalam pembuatan pakan pellet, diantaranya yaitu:
-
Timbangan - Alat Pencetak
-
Tapisan - Pengayak
-
Baskom - Kompor
-
Panci
B.
Bahan
Ada dua bahan pembuatan pakan ikan,
yakni bahan pembutan pakan ikan pemakan tumbuhan (Herbivora) dengan kadar
protein 20% dan bahan pembuatan pakan ikan pemakan hewan (Karnivora) dengan
kadar protein 40%.
1.
Bahan pembuatan pakan ikan pemakan
tumbuhan (Herbivora), kadar protein 20%.
-
Dedak halus = 1,70 kg
-
Tepung terigu = 1.70 kg
-
Tepung ikan = 0,30 kg
-
Tepung kedelai = 0,30 kg.
2.
Bahan pembuatan pakan ikan pemakan
hewan (karnivora), kadar protein 40%.
-
Dedak halus = 0,72 kg
-
Tepung terigu = 0,72 kg
-
tepung ikan = 1,28 kg
-
tepung kedelai = 1,28 kg
Selain
bahan baku diatas, digunakan pula bahan baku tambahan yakni mineral dan minyak
ikan sesuai dengan kebutuhan pakan.
C. Langkah Pembuatan Pellet
Sebelum kita akan membuat pakan
buatan maka kita harus memahami tentang bahan yang digunakan dalam proses
pembuatannya. Dalam membuat pakan buatan untuk usaha perikanan baik di kolam
air tawar maupun payau, hal terpenting yang perlu untuk menjadi bahan yang
harus dipertimbangkan ádalah persyaratan bahan baku pakan itu sendiri yaitu :
- Bahan baku tidak mengandung racun. Bahan baku
yang mengandung racun dapat menghambat pertumbuhan, bisa saja ikan menjadi
mabuk dan stress, bahkan dapat menyebabkan kematian baik itu ikan ataupun
udang yang diperihara secara massal.
- Bahan baku pakan tidak boleh bersaing dengan
bahan makanan manusia.
- Bahan baku harus tersedia dalam waktu lama, atau
tersedia secara kontinyu.
- Harga bahan baku murah atau bisa dinilai dari
manfaat bahan baku tersebut.
Sebagai
contoh tepung ikan harganya memang mahal tetapi bila dibandingkan dengan nilai
dan kegunaannya terutama kandungan proteinnya yang tinggi dan kelengkapan asam
aminonya maka penggunaan tepung ikan menjadi murah. Kualitas gizi bahan baku,
menjadi persyaratan penting, walaupun harganya murah, dan tersedia cukup
melimpah tetapi kandungan gizinya buruk, maka bahan baku seperti ini tidak
dapat digunakan.
Adapun langkah pembuatan Pellet, yaitu:
a.
Penimbangan bahan baku (sebelum
ditimbang, semua bahan baku sudah siap dalam bentuk tepung)
b.
Membuat adonan pellet dengan cara
mencampur bahan baku, mengaduk-aduk atau meremas-remas sambil diberi air
sedikit demi sedikit, sampai adonan lembab. Khusus vitamin dicampurkan dengan
bahan adonan lainnya setelah adonan dimasak dan dingin agar vitamin tidak rusak
atau hilang.
c.
Adonan yang telah terlihat tercampur
rata dan kompak. Adonan lalu dikukus hingga masak kalau adonan ditusuk lidi
tidak lengket.
d.
Setelah masak dalam kondisi hangat
lalu dicetak, menggunakan penggiling daging dan dipotong-potong sepanjang 1 cm.
e.
Pellet dijemur atau di oven sampai
kering (kadar air 10%)
f.
Setelah pellet kering, maka pellet
tersebut dikemas menggunakan kantong plastik lalu di kemudian disimpan pada
tempat yang teduh.
g.
Selesai sudah membuat pakan ikan
sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Afrianto
Eddy, Liviawaty E, 2002. Pemeliharaan
Kepiting. Kanisius, Jakarta
Afrianto
Eddy, Liviawaty E, 2002. Pakan Ikan Dan Perkembangannya. Kanisius, Jakarta
Azhari.
2003. Jakarta city tour: tragedi, ironi,
dan teror. AgroMedia, Jakarta.
Joomla,
2009. Pakan ikan. General
Public License, Jakarta
Khairuman, Amri K. 2003. Pembenihan & Pembesaran Gurami secara Intensif. AgroMedia,
Jakarta
Tiana AH. 2002. Memilih
& Membuat Pakan Tepat untuk Koi. AgroMedia, Jakarta
Tiana OA, Murhananto. 2004. Membedah Rahasia Sukses Memelihara Koi. AgroMedia, Jakarta
Z Akhmad, Rahmadi A. 2002. Memilih & Membuat Pakan Tepat untuk Lou Han. AgroMedia, Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)



















.jpg)
.jpg)