Wikipedia

Hasil penelusuran

Selasa, 24 Desember 2013

Laporan vanname

TEKNIK PERBENIHAN LARVA UDANG VANNAME
A.   Persiapan bak pemeliharaan larva
Bak pemeliharaan larva dilapisi dengan cat berwarna biru muda dan dilengkapi dengan pipa saluran udara (instalasi aerasi), instalasi air laut, instalasi alga, dan saluran pengeluaran yang dilkengkapi saringan sirkulasi dan pipa goyang, serta terpal sebagai penutup agar suhu stabil selama proses pemeliharaan larva. Kemiringan bak adalah 2-5%, hal ini bertujuan untuk mrmudahkan dalam pengeringan. Adapun sistem aerasi pada bak pemeliharaan larva menggunakan aerasi gantung dengan jarak antara titik 40 cm dan jarak dari dasar bak adalah 5 cm agar sisa pakan dan kotoran tidak teraduk.
Pencucian bak dilakukan dengan menggunaknan kaporit 60%sebanyak 100 ppm yang dicampur dengan deterjen 5 ppm dan dilarutkan dengan air tawar pada wadah berupa ember kemudian dinding dan dasar bak digosok-gosok dengan menggunakan scoring pad dan dibilas dengan air tawar hingga bersih dan kemudian dilakukan pengeringan selama dua hari.
B.   Penebaran Nauplius
Penebaran nauplius dilakukan pada pagi hari dengan tujuan untuk menghindari perubahan suhu yang terlalu tinggi dengan cara aklimatisasi 30 menit atau sampai suhu didalam wadah dengan suhu diluar wadah sama, aklimatisasi ini bertujuan untuk menyesuaikan naupli dengan perubahan kondisi lingkungan air di bak pemeliharaan larva.
Nauplius yang ditebar adalah (N3-N4), hal ini bertujuan agar menekan gangguan proses metemorfoses sekecil mungkin dari stadia naupli ke stadia Zoea 1 , karena pada proses pemeliharaan larva udang vaname sering dikenal dengan istilah Zoea Sindrome atau zoea lemah. Dimana pada fase ini larva kelihatan lemah dan tubuh kotor yang dapat menyebabkan kematian hingga 10%.
C.   Perkembangan Larva
Larva akan berkembang sempurna dengan kondisi suhu 26 – 28 OC, oksigen terlarut 5-7 mg/l, salinitas 35 ppt, sesuai dengan kondisi alamnya. Setelah menetas larva akan berkembang menjadi 3 stadia yaitu nauplius, zoea mysis, setelah itu larva akan berkembang menjadi stadia post larva (PL). waktu yang diperlukan untuk perubahan nauplius 1 sampai N6 diperlukan waktu 48 jam, sedangkan perubahan zoea1-zoea3 membutuhkan waktu 3-4 hari, demikian halnya dengan stadia mysis memerlukan waktu perubahan dari mysis1-mysis3 adalah 3-4 hari.
Telur yang telah menetas pada dasarnya masih bersifat planktonis dan bergerak mengikuti arus air. Menurut Wyban dan Sweeney (1991) dalam  pertumbuhan, larva akan berkembang dengan sempurna pada kondisi suhu 26-28ºC, oksigen terlarut 5-7 mg/l, salinitas 35 ppt. Setelah menetas larva akan berkembang menjadi 3 stadia yaitu nauplius, zoea, mysis. Setiap stadia akan dibedakan menjadi sub stadia sesuai dengan perkembangan morfologinya. Pergantian stadia terjadi setelah larva mengalami pergantian kulit (moulting).
Menurut Martosudarmo dan Ranoemiraharjo (1980) perkembangan larva udang vannamei pada setiap stadia mulai dari stadia nauplius sampai stadia post larva sebagai berikut :
ü  Stadia Nauplius
         Stadia ini terbagi menjadi enam tingkatan dan berlangsung antara 35-50 jam. Pada stadia ini belum memerlukan makanan dari luar karena masih memiliki cadangan makanan dari kuning telur. Karakteristik larva pada stadia nauplius dapat dilihat pada tabel.
Tabel 1. Karakteristik larva udang pada stadia nauplius
Stadia
Karakteristik
Nauplius I
Bentuk badan bulat telur dan mempunyai anggota badan tiga pasang .
Nauplius II
Pada ujung antena pertama terdapat setai (rambut) yang satu panjang dan dua buah yang pendek.
Nauplius III
Dua buah furcel mulai tampak jelas dengan masing-masing tiga duri (spine), tunas maxillaped mulai tampak.
Nauplius IV
Masing-masing furcel terdapat empat buah duri, exopoda pada antena kedua beruas-ruas
Nauplius V
Struktur tonjolan tubuh pada pangkal maxilla dan organ pada bagian depan sudah mulai tampak jelas.
Nauplius VI
Perkembangan bulu-bulu makin sempurna dan duri pada furcel tumbuh makin panjang.
Sumber : Haliman dan Adijaya, (2006)
ü  Stadia Zoea
         Pada fase ini larva mulai tampak aktif mengambil makanan sendiri dari luar, terutama plankton. Fase zoea berlangsung selama 3-4 hari (3 stadia).
ü Stadia Mysis
Setelah fase zoea selesai maka stadia selanjutnya adalah fase mysis yang berlangsung selama 4-5 hari. Fase mysis mengalami tiga kali perubahan atau stadia
ü  Stadia Post Larva (PL)
Bentuk paling akhir dan paling sempurna dari seluruh metamorfosa adalah post larva (PL). pada fase ini tidak mengalami perubahan bentuk karena seluruh bagian anggota tubuh sudah lengkap dan sempurna seperti udang dewasa. Post larva yang berumur 20 -25 hari dapat dilepas di tambak.
D.   Pemberian Pakan
Jenis pakan yang diberikan pada udang vanname selama pemeliharaan ada dua jenis yaitu pakan alami ( Phytoplankton dan Zooplankton) dan pakan buatan (komersil). Jenis pakan  alami yang diberikan adalah Chaetoceros ceratos dan Artemia salina. Pemberian Chaetoceros dilakukan mulai stadia Zoea 1 sampai stadia Mysis 3. sedangkan pada stadia naupli belum diberikan pakan karena pada stadia ini larva masih memanfaatkan kuning telur sebagai pensuplai makanan.
Chaetoceros merupakan jenis alga dari kelompok diatomae, dimana alga ini mempunyai kelebihan dibandingkan beberapa jenis diatom lainnya yaitu mengandung HUFA dan Omega 3 yang dapat meningkatkan anti body yang sangat dibutuhkan oleh larva udang terutama pada fase transisi seperti stadia naupli ke zoea. Dimana fase ini dikenal dengan istilah zoea syndrome ( zoea lemah) dosis pakan alami yang diberikan pada stadia zoea 1- mysis 3 adalah 50.000 sel/ml sampai 100.000 sel/ml. sedangkan PL1 sampai PL 5 minimal 50.000 sel/ml. Dengan frekuensi pemberian 2 kali/hari.
Pakan alami dari jenis zooplankton yang diberikan pada larva adalah Artemia salina dengan cara dilakukan pengkulturan. Pakan ini diberikan pada M3-PL1 dengan kepadatan 3-4 individu/ml, pada PL2-PL5 dengan kepadatan 8-10 individu/ml, dan pada PL6-PL10 dengan kepadatan 10-11 individu/ml dengan frekuensi pemberian 3 kali/hari
Selain pakan alami selama proses pemeliharaan larva udang vaname diberikan juga pakan tambahan berupa pakan komersil yang tujuannya untuk menjaga agar tidak sampai terjadi Under Feeding selama pemeliharaan larva dengan frekuensi pemberian 6 kali/hari.
E.   Pengelolaan Kualitas Air
Pengelolaan kualitas air pada masa pemeliharaan larva udang vaname dilakukan dengan beberapa cara yaitu monitoring, pengecakan kualitas air, pergantian air dan penyiponan. Monitoring kualitas air dilakukan setiap hari yaitu pada pagi hari, parameter yang dimonitoring adalah suhu dengan tujuan agar selama masa pemeliharaan proses metabolisme dan metamorfosa larva lancar yaitu berkisar 29-32 OC. Sedangkan untuk pengecekan parameter kualitas air dilakukan pada setiap pergantian stadia. Ph berkisar 7,5-8,5, salinitas berkisar 29-30 ppt dan kadar nitrit maksimal 0,1 ppm.
Sedangkan pergantian air dan penambahan air secara sirkulasi dengan cara melihat secara visual, bila permukaan air telah banyak gelembung busa yang telah menumpuk dan gelembung tersebut tidak dapat pecah, ini diasumsikan air pada kondisi jenuh dan telah terjadi banyak perombakan-perombakan gas didalam air. Pengisian air pada awal penebaran sekitar 30% dari kapasitas wadah, pada stadia zoea ditambahkan sampai 70%, stadia misis 80% dan stadia P dan L 100%.
Pergantian air dilakukan setelah mencapai mysils 3 sampai dengan PL 5 berkisar 10-30% dan PL 5 sampai dengan panen 30-50% dari volume wadah yang terisi. Hal ini juga dilakukan berdasarkan pengamatan warna perairan secara visual bila terjadi blooming plankton atau banyak larva yang mati. Selain  water excange juga dilakukan penyiponan. Penyiponan dilakukan cara melihat secara visual bila dasar bak pemelliharaan larva banyak mengendap kotoran didasar bak.
F.    Pengamatan Kondisi dan Perkembangan Larva
Pengamatan dilakukan untuk mengetahui kondisi fisik dan perkembangan tubuh larva yang dapat digunakan untuk mengestimasi populasi sehingga dapat menentukan jumlah pakan yang diberikan. Pengamatan dilakukan secara makroskopis dan mikkrospis. Pengamatan makroskopis dilakukan secara visual dengan mengambil sampel langsung dari bak pemeliharaan, hal yang diamati kondisi tubuh larva, pigmentasi, usus, sisa pakan, kotoran.
Pengamatan mikrokospis dilakukan dengan cara mengambil sempel dan diletakkan dalam obyek glass kemudian diamati dibawah mikroskop. Pengamatan ini dilakukan untuk mengamati morfologi tubuh larva, keberadaan parasit, pathogen. Selain itu dilakukan juga sampling populasi untuk menentukan kepadatan populasi yang berguna dalam penentuan jumlah pakan yang dibutuhkan oleh larva.

G.   Pengendalian Penyakit
Pengendalian penyakit dilakujkan dengan menggunakan prinsip dasar yaitu tindakan pencegahan dan pengobatan.  Tindakan pencegahan dilakukan dengan cara mulai dari penerapan biosecuriti dengan menggunakan PK (Kalium Permanganat) sebanyak 1,5 ppm yang ditempatkan di pintu masuk sebelum masuki ruangan. Juga sanitasi peralatan yang dilakukan sebelum dan sesudah digunakan pemakaian peralatan dengan cara dipping menggunakan formalin 100 ppm. Pada pemeliharaan  larva dilakukan juga pemberian obat-obatan yang aman seperti Treflan, Iodin atau EDTA setiap tiga hari sekali.
Selain kegiatan di atas skrining induk juga sangat penting dilakukan karena induk yang terserang penyakit akan menularkan penyakitnya. Selain itu kegiatan pengelolaan kualitas air mulai dari filterisasi, Ozonisasi,  Peyinaran UV sangat menunjang dalam menginhdari  wabah penyakit.
Jenis organisme yang umumnya menyerang larva udang vaname adalah golongan protozoa, virus, jamur, bakteri dan cacing. Salah satu penyakit larva yang sulit dilakukan pencegahan dan pengobatan adalah dari golongan virus yaitu IHHNV ( Infectious Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus), WSSV (White Spote Syndrome Virus) dan YHV (Yellow Head Virus) penanggulanganya adalah pemusnahan agar tidak menyebar ke tempat lain.


H.   Pemanenan Benur
Pemanenan benur dilakukan dimulai pada stadia PL 10 atau ukuran Pl mencapai 1 cm dan yang telah memenuhi kreteria-kreteria benur yang siap dipanen. Panen benur dapat dilakukan secara total atau selektif tergantung banyaknya permintaan pembeli. Benur yang telah dipanen dipindahkan ketempat pengemasan dengan diberi aerasi dan selanjutnya dikemas dengan kantong plastiik dan diberi Oxigen






Gambar Pengemasan Benur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar