TEKNIK PERBENIHAN
LARVA UDANG VANNAME
A.
Persiapan bak pemeliharaan larva
Bak pemeliharaan larva dilapisi dengan cat berwarna biru
muda dan dilengkapi dengan pipa saluran udara (instalasi aerasi), instalasi air
laut, instalasi alga, dan saluran pengeluaran yang dilkengkapi saringan
sirkulasi dan pipa goyang, serta terpal sebagai penutup agar suhu stabil selama
proses pemeliharaan larva. Kemiringan bak adalah 2-5%, hal ini bertujuan untuk
mrmudahkan dalam pengeringan. Adapun sistem aerasi pada bak pemeliharaan larva
menggunakan aerasi gantung dengan jarak antara titik 40 cm dan jarak dari dasar
bak adalah 5 cm agar sisa pakan dan kotoran tidak teraduk.
Pencucian bak dilakukan dengan menggunaknan kaporit
60%sebanyak 100 ppm yang dicampur dengan deterjen 5 ppm dan dilarutkan dengan
air tawar pada wadah berupa ember kemudian dinding dan dasar bak digosok-gosok
dengan menggunakan scoring pad dan dibilas dengan air tawar hingga bersih dan
kemudian dilakukan pengeringan selama dua hari.
B.
Penebaran Nauplius
Penebaran nauplius dilakukan pada pagi hari dengan tujuan
untuk menghindari perubahan suhu yang terlalu tinggi dengan cara aklimatisasi
30 menit atau sampai suhu didalam wadah dengan suhu diluar wadah sama,
aklimatisasi ini bertujuan untuk menyesuaikan naupli dengan perubahan kondisi
lingkungan air di bak pemeliharaan larva.
Nauplius yang ditebar adalah (N3-N4),
hal ini bertujuan agar menekan gangguan proses metemorfoses sekecil mungkin
dari stadia naupli ke stadia Zoea 1 , karena pada proses
pemeliharaan larva udang vaname sering dikenal dengan istilah Zoea Sindrome
atau zoea lemah. Dimana pada fase ini larva kelihatan lemah dan tubuh kotor
yang dapat menyebabkan kematian hingga 10%.
C.
Perkembangan Larva
Larva akan berkembang sempurna dengan kondisi suhu 26 –
28 OC, oksigen terlarut 5-7 mg/l, salinitas 35 ppt, sesuai dengan
kondisi alamnya. Setelah menetas larva akan berkembang menjadi 3 stadia yaitu
nauplius, zoea mysis, setelah itu larva akan berkembang menjadi stadia post
larva (PL). waktu yang diperlukan untuk perubahan nauplius 1 sampai N6
diperlukan waktu 48 jam, sedangkan perubahan zoea1-zoea3 membutuhkan
waktu 3-4 hari, demikian halnya dengan stadia mysis memerlukan waktu perubahan
dari mysis1-mysis3 adalah 3-4 hari.
Telur yang telah menetas pada dasarnya masih bersifat planktonis dan
bergerak mengikuti arus air. Menurut Wyban dan Sweeney (1991) dalam pertumbuhan, larva akan berkembang dengan
sempurna pada kondisi suhu 26-28ºC, oksigen terlarut 5-7 mg/l, salinitas 35
ppt. Setelah menetas larva akan berkembang menjadi 3 stadia yaitu nauplius,
zoea, mysis. Setiap stadia akan dibedakan menjadi sub stadia sesuai dengan
perkembangan morfologinya. Pergantian stadia terjadi setelah larva mengalami
pergantian kulit (moulting).
Menurut Martosudarmo dan Ranoemiraharjo (1980) perkembangan larva udang
vannamei pada setiap stadia mulai dari stadia nauplius sampai stadia post larva
sebagai berikut :
ü Stadia Nauplius
Stadia ini terbagi menjadi enam tingkatan dan berlangsung antara 35-50 jam.
Pada stadia ini belum memerlukan makanan dari luar karena masih memiliki
cadangan makanan dari kuning telur. Karakteristik larva pada stadia nauplius
dapat dilihat pada tabel.
Tabel 1.
Karakteristik larva udang pada stadia nauplius
|
Stadia
|
Karakteristik
|
|
Nauplius I
|
Bentuk badan bulat
telur dan mempunyai anggota badan tiga pasang .
|
|
Nauplius
II
|
Pada ujung
antena pertama terdapat setai (rambut) yang satu panjang dan dua buah yang
pendek.
|
|
Nauplius
III
|
Dua buah
furcel mulai tampak jelas dengan masing-masing tiga duri (spine), tunas maxillaped
mulai tampak.
|
|
Nauplius
IV
|
Masing-masing
furcel terdapat empat buah duri, exopoda pada antena kedua beruas-ruas
|
|
Nauplius V
|
Struktur
tonjolan tubuh pada pangkal maxilla dan organ pada bagian depan sudah mulai
tampak jelas.
|
|
Nauplius
VI
|
Perkembangan
bulu-bulu makin sempurna dan duri pada furcel tumbuh makin panjang.
|
Sumber : Haliman dan Adijaya, (2006)
ü Stadia Zoea
Pada fase ini larva mulai tampak aktif mengambil makanan sendiri dari luar,
terutama plankton. Fase zoea berlangsung selama 3-4 hari (3 stadia).
ü Stadia Mysis
Setelah fase zoea selesai maka stadia selanjutnya adalah fase mysis yang
berlangsung selama 4-5 hari. Fase mysis mengalami tiga kali perubahan atau
stadia
ü Stadia Post Larva (PL)
Bentuk paling akhir dan paling sempurna dari seluruh metamorfosa adalah
post larva (PL). pada fase ini tidak mengalami perubahan bentuk karena seluruh
bagian anggota tubuh sudah lengkap dan sempurna seperti udang dewasa. Post
larva yang berumur 20 -25 hari dapat dilepas di tambak.
D.
Pemberian Pakan
Jenis pakan yang diberikan pada udang vanname selama
pemeliharaan ada dua jenis yaitu pakan alami ( Phytoplankton dan Zooplankton)
dan pakan buatan (komersil). Jenis pakan
alami yang diberikan adalah Chaetoceros ceratos dan Artemia salina. Pemberian
Chaetoceros dilakukan mulai stadia Zoea 1 sampai stadia Mysis 3. sedangkan pada
stadia naupli belum diberikan pakan karena pada stadia ini larva masih
memanfaatkan kuning telur sebagai pensuplai makanan.
Chaetoceros merupakan jenis
alga dari kelompok diatomae, dimana alga ini mempunyai kelebihan dibandingkan
beberapa jenis diatom lainnya yaitu mengandung HUFA dan Omega 3 yang dapat
meningkatkan anti body yang sangat dibutuhkan oleh larva udang terutama pada
fase transisi seperti stadia naupli ke zoea. Dimana fase ini dikenal dengan
istilah zoea syndrome ( zoea lemah) dosis pakan alami yang diberikan pada
stadia zoea 1- mysis 3 adalah 50.000 sel/ml sampai 100.000 sel/ml. sedangkan
PL1 sampai PL 5 minimal 50.000 sel/ml. Dengan frekuensi pemberian 2 kali/hari.
Pakan alami dari jenis zooplankton yang diberikan pada
larva adalah Artemia salina dengan cara dilakukan pengkulturan. Pakan ini
diberikan pada M3-PL1 dengan kepadatan 3-4 individu/ml, pada PL2-PL5 dengan
kepadatan 8-10 individu/ml, dan pada PL6-PL10 dengan kepadatan 10-11
individu/ml dengan frekuensi pemberian 3 kali/hari
Selain pakan alami selama proses pemeliharaan larva udang
vaname diberikan juga pakan tambahan berupa pakan komersil yang tujuannya untuk
menjaga agar tidak sampai terjadi Under Feeding selama pemeliharaan larva
dengan frekuensi pemberian 6 kali/hari.
E.
Pengelolaan Kualitas Air
Pengelolaan kualitas air pada masa pemeliharaan larva
udang vaname dilakukan dengan beberapa cara yaitu monitoring, pengecakan
kualitas air, pergantian air dan penyiponan. Monitoring kualitas air dilakukan
setiap hari yaitu pada pagi hari, parameter yang dimonitoring adalah suhu
dengan tujuan agar selama masa pemeliharaan proses metabolisme dan metamorfosa
larva lancar yaitu berkisar 29-32 OC. Sedangkan untuk pengecekan parameter
kualitas air dilakukan pada setiap pergantian stadia. Ph berkisar 7,5-8,5,
salinitas berkisar 29-30 ppt dan kadar nitrit maksimal 0,1 ppm.
Sedangkan pergantian air dan penambahan air secara
sirkulasi dengan cara melihat secara visual, bila permukaan air telah banyak
gelembung busa yang telah menumpuk dan gelembung tersebut tidak dapat pecah,
ini diasumsikan air pada kondisi jenuh dan telah terjadi banyak
perombakan-perombakan gas didalam air. Pengisian air pada awal penebaran sekitar
30% dari kapasitas wadah, pada stadia zoea ditambahkan sampai 70%, stadia misis
80% dan stadia P dan L 100%.
Pergantian air dilakukan setelah mencapai mysils 3 sampai
dengan PL 5 berkisar 10-30% dan PL 5 sampai dengan panen 30-50% dari volume
wadah yang terisi. Hal ini juga dilakukan berdasarkan pengamatan warna perairan
secara visual bila terjadi blooming plankton atau banyak larva yang mati.
Selain water excange juga dilakukan
penyiponan. Penyiponan dilakukan cara melihat secara visual bila dasar bak
pemelliharaan larva banyak mengendap kotoran didasar bak.
F.
Pengamatan Kondisi dan Perkembangan Larva
Pengamatan dilakukan untuk mengetahui kondisi fisik dan
perkembangan tubuh larva yang dapat digunakan untuk mengestimasi populasi
sehingga dapat menentukan jumlah pakan yang diberikan. Pengamatan dilakukan
secara makroskopis dan mikkrospis. Pengamatan makroskopis dilakukan secara
visual dengan mengambil sampel langsung dari bak pemeliharaan, hal yang diamati
kondisi tubuh larva, pigmentasi, usus, sisa pakan, kotoran.
Pengamatan mikrokospis dilakukan dengan cara mengambil
sempel dan diletakkan dalam obyek glass kemudian diamati dibawah mikroskop.
Pengamatan ini dilakukan untuk mengamati morfologi tubuh larva, keberadaan
parasit, pathogen. Selain itu dilakukan juga sampling populasi untuk menentukan
kepadatan populasi yang berguna dalam penentuan jumlah pakan yang dibutuhkan
oleh larva.
G.
Pengendalian Penyakit
Pengendalian penyakit dilakujkan dengan menggunakan
prinsip dasar yaitu tindakan pencegahan dan pengobatan. Tindakan pencegahan dilakukan dengan cara
mulai dari penerapan biosecuriti dengan menggunakan PK (Kalium Permanganat)
sebanyak 1,5 ppm yang ditempatkan di pintu masuk sebelum masuki ruangan. Juga
sanitasi peralatan yang dilakukan sebelum dan sesudah digunakan pemakaian
peralatan dengan cara dipping
menggunakan formalin 100 ppm. Pada pemeliharaan
larva dilakukan juga pemberian obat-obatan yang aman seperti Treflan,
Iodin atau EDTA setiap tiga hari sekali.
Selain kegiatan di atas skrining induk juga sangat penting dilakukan karena induk yang
terserang penyakit akan menularkan penyakitnya. Selain itu kegiatan pengelolaan
kualitas air mulai dari filterisasi, Ozonisasi,
Peyinaran UV sangat menunjang dalam menginhdari wabah penyakit.
Jenis organisme yang umumnya menyerang larva udang vaname
adalah golongan protozoa, virus, jamur, bakteri dan cacing. Salah satu penyakit
larva yang sulit dilakukan pencegahan dan pengobatan adalah dari golongan virus
yaitu IHHNV ( Infectious Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus), WSSV
(White Spote Syndrome Virus) dan YHV (Yellow Head Virus) penanggulanganya
adalah pemusnahan agar tidak menyebar ke tempat lain.
H.
Pemanenan Benur
Pemanenan benur dilakukan dimulai pada stadia PL 10 atau
ukuran Pl mencapai 1 cm dan yang telah memenuhi kreteria-kreteria benur yang
siap dipanen. Panen benur dapat dilakukan secara total atau selektif tergantung
banyaknya permintaan pembeli. Benur yang telah dipanen dipindahkan ketempat
pengemasan dengan diberi aerasi dan selanjutnya dikemas dengan kantong plastiik
dan diberi Oxigen
Gambar Pengemasan Benur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar