Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 14 Desember 2013


TEKNIK  PERBENIHAN  UDANG  WINDU
( Penaeus  monodon  Fabr. )
DI PT. SURYA MONODON KABUPATEN TAKALAR
Oleh : Haerti
Dibimbing oleh : Muhammad Syahrir, SP, M.Si dan Zeth Tandiboyong, S.Pd
Abstrak           : Usaha perbenihan udang windu merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta untuk memenuhi kebutuhan benur sekaligus menjaga kelestarian udang di alam. Sehingga hadirnya usaha perbenihan (hatchery) udang ini sangat berperan dalam penyediaan benur dengan kualitas yang baik dan jumlah yang memadai.

I.PENDAHULUAN

Udang windu  merupakan  komoditi ekspor yang dapat menghasilkan devisa  negara  karena  memiliki  nilai  ekonomi  yang  sangat  tinggi. Sejalan dengan berkembangnya usaha budidaya udang windu di Indonesia, maka kebutuhan benur juga cenderung mengalami peningkatan. Oleh karena itu untuk memenuhi permintaan  benur yang berkulitas maka perlu  adanya  usaha  yang  dapat  memenuhi  permintaan  konsumen.
Untuk mengetahui usaha perbenihan udang windu tersebut, maka siswa SUPM  Negeri  Bone  perlu  melakukan  Praktik  Kerja  Lapang  (PKL)  pada unit-unit usaha perbenihan udang windu dari skala kecil ( back yard ) sampai skala besar ( hatchery ).
Perbenihan udang windu merupakan salah satu jenis usaha yang  berupaya memenuhi kebutuhan benur bagi pembudidaya udang windu. Maka dari itu untuk mengembangkan suatu usaha, khususnya perbenihan udang windu sangat dibutuhkan tenaga terampil dan berpengalaman.
PT. Surya Monodon adalah salah satu hatchery di Kabupaten Takalar yang cukup berhasil dalam usaha perbenihan udang windu dan telah berperan dalam penyediaan benur para petani tambak maupun usaha peggelondongan di daerah Kabupaten Takalar dan daerah-daerah lain.
Atas dasar itulah yang menarik bagi  Penyusun  untuk  memilih  karya  tulis yang berjudul “Usaha Perbenihan Udang Windu ( Penaeus monodon Fabr. ) di Hatchery PT. Surya  Monodon  Kabupaten Takalar.
II.PERSIAPAN
A.  Rencana Kegiatan
Adapun rencana kegiatan yang Penyusun laksanakan di PT. Surya Monodon adalah sebagai berikut :
1.    Persiapan
2.    Pengadaan induk
3.    Pemeliharaan induk
4.    Ablasi
5.    Pemeriksaan ovary
6.    Peneluran dan penetasan
7.    Penebaran naupli
8.    Pemeliharaan larva
9.    Panen dan pemasaran

B. Jadwal Kegiatan

Kegiatan-kegiatan yang Penyusun laksanakan selama mengikuti Praktik Kerja Lapang (PKL) yaitu di PT. Surya Monodon Takalar. Berdasarkan rencana kegiatan di atas dapat dilihat pada jadwal kegiatan di bawah ini:
Tabel 1. Jadwal kegiatan di Hatchery PT. Surya Monodon
No
Kegiatan
Tahun 2013
Februari
Maret
April
Mei
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Persiapan
x
X
x
x
x
x
2
Pengadaan Induk
x
x
x
3
Pemeliharaan Induk
x
x
x
x
x
x
x
4
Ablasi
x
x
x
5
Pemeriksaan Ovari
x
x
x
x
x
x
6
Peneluran dan Penetasan
x
x
x
x
x
X
7
Penebaran Nauplius
x
x
x
x
x
x
X
8
Pemeliharaan larva
X
X
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
X
9
Panen dan pemasaran
X
x
x
x
x
x
x

C. Potensi wilayah
Potensi wilayah di sekitar lokasi Penyusun mengadakan Praktek Kerja Lapang ( PKL ) di PT. Surya Monodon dapat  dikatakan  cukup  potensial  jika  ditinjau dari beberapa aspek, aspek-aspek tersebut merupakan faktor pendukung. Aspek-aspek tersebut yakni aspek teknis, aspek  ekonomi  dan  aspek  sosial  budaya.
1.  Aspek  Teknis
Aspek  teknis  yang  dapat  menunjang  unit  usaha  ini  ialah  sebagai  berikut:
1)    Sangat  dekat  dengan  sumber  air  laut,  sehingga  memudahkan  dalam  pengadaan air laut untuk media hidup udang.
2)    Jaraknya jauh dari muara dan sungai, sehingga terhindar dari  pencemaran  (limbah,  sampah  dan  lain-lain)  dan  terjadinya  erosi.
2.  Aspek  Ekonomi
Letak hatchery PT. Surya Monodon memudahkan dalam hal  pemasaran  benur  karena  jalan  yang  dilalui  cukup  bagus serta sarana transportasi  yang  menunjang. Disamping itu, pembeli yang datang dari daerah-daerah yang jauh tidak  kesulitan  untuk  memperoleh  benur  yang  berkualitas  dan  dalam  jumlah  yang  banyak.
Di lokasi Penyusun melaksanakan PKL, banyak didirikan unit-unit  perbenihan  udang, sehingga  menyebabkan  ketatnya  persaingan  dalam  hal  pemasaran.  Sehingga  produk  yang  unggul  dan  jumlah  yang  banyak  menjadi  suatu  tuntutan  utama  yang  harus  dipenuhi. Kenyataan yang ada, benur dari PT. Surya Monodon sangat diminati oleh konsumen. Hal ini sangat menguntungkan perusahaan, karena benur yang diproduksi selalu laku terjual dengan laba perusahaan yang selalu positif setiap akhir periode.
3.  Aspek  Sosial  Budaya
Keberadaan  perusahaan di daerah ini telah mendapatkan  sambutan  dari masyarakat setempat dengan respon yang baik, karena memberikan  keuntungan  bagi  masyarakat  setempat  baik  yang  bergerak  di  bidang  perikanan  maupun  di  luar  kegiatan  perikanan.
III.PELAKSANAAN
A.  Waktu  dan  Tempat
Waktu PKL ini dilaksanakan pada awal semester ganjil Tahun Pelajaran 2012 / 2013, yaitu bulan Februari sampai dengan bulan Mei 2013.
Adapun tempat  yang  telah  ditentukan  untuk  dijadikan  sebagai  lokasi  kegiatan Praktik Kerja Lapang bagi Penyusun adalah di  PT. Surya  Monodon  yang  berlokasi  di  daerah:
a.    Dusun                  : Sawakung
b.    Desa                     : Tamasaju
c.    Kecamatan          : Galesong Utara
d.    Kabupaten          : Takalar
e.    Propinsi               : Sulawesi  Selatan

B. Keadaan  Lokasi

a.  Topografi
Topografi  adalah  ketinggian  atau  jarak  suatu  tempat. Adapun  topografi  dari  PT. Surya  Monodon yaitu  berjarak  10  meter  dari  laut  jika  diukur  pada  saat  pasang  terendah  dan   saat  pasang  tertinggi  dengan  permukaan  yang  datar  dan  terhindar  dari  bahaya  erosi.
b.  Hidrologi
Perusahaan  ini  memiliki  jarak  yang  sangat  dekat  dengan  laut,  sehingga  terdapat  kemudahan  dalam  hal  pengadaan  air laut  yang  berfungsi  sebagai  media  hidup  udang.  Parameter  kualitas  air  lautnya  yakni  salinitas 29-30 ppt,  pH  7,5  dan  suhu  30-32°C.  Kendala  hidrologi  yang  dihadapi  oleh  perusahaan  adalah  dalam  hal  pengadaan  air  tawar,  kendala  tersebut  disebabkan  karena  adanya  pengaruh  kadar  garam  air  laut  terhadap  ketawaran  sumber  air  tanah, maka dari itu perusahaan mengambil air sumur bor dengan jarak 200 meter dari laut.
C. Kegiatan-kegiatan

1.     Persiapan

a.  Penyediaan  Sarana  dan  Prasarana
Kegiatan  ini  adalah  salah  satu  kegiatan   yang  terdiri  dari  dua  kegiatan  yakni  pengecekan  dan  penanganan / perbaikan  sarana  dan  prasarana  yang  akan  menunjang  kegiatan  yang  akan  berlangsung.
b.  Persiapan  Sand  Filter
Sand filter  menentukan  bagus atau  tidaknya  kualitas  air  laut  yang  akan  digunakan. Komponen-komponen sand filter, yaitu:
1)  Arang
Arang yang digunakan yaitu arang batok kelapa yang mengandung  karbon aktif dan berfungsi untuk menyerap kandungan logam berat yang  terkandung di dalam air.
2)  Pasir
Pasir yang digunakan adalah pasir kwarsa yang berwarna putih yang berfungsi  untuk menyaring kotoran dan partikel yang ada di dalam air.
c.   Persiapan  Fasilitas  Lainnya
Fasilitas  lainnya  seperti  mesin  Generator  Set  (Genset)  yang  berfungsi  sebagai  cadangan  sumber  listrik  apabila  listrik  dari  PLN  tidak  aktif,  heater  (pemanas)  yang  berfungsi  untuk  mempertahankan  suhu  air  pada  media  pemeliharaan dan  untuk  membantu  dalam  proses  penetasan  telur  agar  suhu  tetap  optimal,  monitoring  kualitas  air  untuk  mengetahui  parameter  kualitas  air, biosecurity di  setiap  pintu  masuk,  dan  disiapkan  pula  ember,  baskom,  peralatan  monitoring  kualitas  air,  bahan  dan  alat  panen,  alat  perbaikan  (perkakas)  serta  peralatan  kerja  lainnya  harus  dipersiapkan dengan baik, agar tidak terjadi masalah dalam  berlangsungnya  kegiatan.
d.  Persiapan  Bak
Bak  adalah  wadah  atau  tempat  ditampungnya  air,  di  mana  air  ini  yang  akan  digunakan  dalam  kegiatan  produksi  sebagaimana  mestinya.  Sehingga  baik  buruknya  kualitas  air  yang  akan  digunakan  tergantung  dari  kualitas  bak-bak  yang  akan  digunakan.
1)  Pencucian  Bak
Untuk mendapatkan  bak  yang  bersih  haruslah  dilakukan  kegiatan  pencucian  bak,  yang  bertujuan  untuk  membersihkan  sisa-sisa  kotoran  dan  kaporit  yang  telah  ditebar  pada  saat  pengeringan.
2)  Pemasangan  Aerasi
Aerasi adalah salah satu alat  untuk  menyuplai  oksigen  ke  dalam  air,  menguapkan  zat-zat  dan  gas-gas  beracun di  dalam  air,  mengaduk  air  sehingga  larutan  pupuk,  pakan  dan  obat-obatan  yang  diberikan  dapat  merata  ke  seluruh  bagian  bak. Komponen aerasi terdiri atas kran udara, selang aerasi, pemberat dan pemecah udara.
e.  Pengadaan  Air  Laut
Air laut merupakan media hidup bagi udang windu  ( induk dan  benur )  yang  akan  dipelihara,  maka  dari  itu  persediaan  air  laut  harus  terus  disiapkan.

2.  Penanganan  Induk  dan  Larva

a.  Penanganan  Induk
Induk  yang  digunakan  di  hatchery  ini  adalah  induk yang berasal dari Aceh. Adapun ciri-ciri induk yang sehat adalah sebagai berikut:
·      Kesehatan: organ tubuh tidak cacat, alat kelamin tidak cacat, tubuh bersih, tidak ada tanda terserang penyakit, tidak luka, insang normal, tidak bengkak, tidak berlendir.
·      Kekenyalan tubuh: tidak keropos, tidak lembek.
·      Gerakan: Gerak aktif, kaki dan ekor memebuka bila dalam air.
·      Ukuran untuk jantan, yaitu panjang 15-20 cm, berat 70-80 gram. Untuk betina, yaitu panjang 17-24 cm, berat 100-120 gram.

a)     Persiapan  Bak
Kegiatan  ini  bertujuan  untuk  memastikan  bahwa  bak  tetap  dalam  keadaan  bersih  untuk  digunakan,  yaitu  dilakukan  dengan  cara  pencucian  bak.
b)     Penebaran  Induk

Untuk mendapatkan keefektifan dan keefisienan dalam kegiatan  pemeliharaan  induk,  maka  jumlah  padat  tebar  yang  optimal  menjadi  tuntutan utama yang harus dipenuhi. Induk yang digunakan adalah betina.  Jumlah  induk semua  adalah 145 ekor.
c)     Manajemen  Pakan
Tabel 2. Daftar pemberian pakan induk
o
1
2

Jenis  Pakan

Dosis

Frekwens

Pukul

Cumi-cumi

3  kg

1  kali/hari

06:00

Kerang/tiram

3  kg

1  kali/hari

17:00

Total

6  kg

2 kali/hari


Untuk  lebih  menambah  kualitas  kondisi  tubuh  induk  maka  setiap  pemberian  pakan  pada  pagi  harinya,  yakni  pakan  cumi-cumi  dicampur  dengan  vit. C1000 dan B12.

d)     Pengelolaan  Kualitas  Air
Kegiatan  ini  dilakukan  dengan  tujuan  untuk  menjaga  kestabilan   kualitas  air  pada  bak  pemeliharaan induk,  yang  dilakukan  dengan  cara  sirkulasi.
3.  Ablasi
Ablasi merupakan teknik ransangan buatan pada induk betina udang windu. Prinsip dari ablasi ini adalah untuk mempercepat perkembangan kematangan gonad pada udang.
Cara ablasi di PT. Surya Monodon yaitu dengan mengikat salah satu tangkai mata dengan karet gelang yang sudah disiapkan. Adapun cara kerja ablasi mata yang dilakukan Penyusun di lokasi, yaitu:
·      Menyiapkan alat dan bahan berupa  karet gelang.
·      Induk ditangkap dengan menggunakan scopnet.
·      Karet gelang diikatkan pada salah satu tangkai mata udang dengan erat.
·      Kemudian disimpan di bak pemeliharaan.

4.  Pemijahan  Induk

Perkawinan  udang  windu  terjadi  pada  saat  setelah  induk  betina  ganti kulit (Moulting), dengan terjadinya ganti kulit tersebut menyebabkan  tubuh  udang  menjadi  lembek  dan  pada  saat itu  alat  kelamin  betina  akan  mudah  terbuka,  sehingga  memudahkan  induk  jantan  menyisipkan  spermatozoa  dan  kegiatan  ini  terjadi  pada  malam  hari.

5.  Pemeriksaan   Ovary
Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa induk telah mencapai masa / waktu untuk bertelur.
Tingkat  kematangan gonad udang, yaitu:
·         Tingkat I            : Garis  ovary  tampak  seperti  garis  lurus  pada  bagian  abdomen  dan  berwarna  hijau  kehitaman.
·         Tingkat II            : Garis  ovary   terlihat  jelas  dan  tebal,  terdapat  satu  tonjolan/gelembung  pada  bagian  dorsal  abdomen.
·         Tingkat III          : Garis ovary semakin tebal dan jelas (Matang) dan terdapat dua tonjolan/ gelembung pada bagian dorsal  abdomen, dan meluas sampai bagian kepala serta membentuk seperti bulan  sabit.
·         Tingkat IV         : Telur  telah  dilepaskan,  ovary  kosong  dan  terlihat  pucat.

1.  Peneluran  Induk
Induk  betina  akan  bertelur  antara  pukul  22:00  sampai  pukul  04:00, yang akan bertelur biasanya akan tampak berenang gelisah di permukaan  air, induk yang telah melepaskan telurnya segera diangkat keluar  menggunakan seser, guna untuk menghindari agar induk tidak memakan  telurnya.
2.  Penetasan  Telur
Telur  udang  windu  akan  menetas  setelah  13  jam,  agar  telur  tidak  mengendap maka dilakukan pengadukan telur setiap 1 jam dan menempatkan aerasinya ditengah-tengah bak. Suhunya dijaga  agar  tetap  stabil yaitu 30-32ºC dengan menggunakan thermometer.
3.  Panen Nauplius
Panen  nauplius di PT. Surya Monodon,  yaitu  sebagai berikut:
·         Nauplius  didiamkan  tanpa  aerasi.
·         Setelah  beberapa  saat  nauplius akan  berenang  di  permukaan.
·         Kemudian  dilakukan  penyeseran  dengan  ukuran  seser  200  mesh  di  dalam  bak,  sampai  nauplius  yang  ada  di  dalam  bak  habis.
·         Nauplius  siap  untuk  ditebar  ke  bak  pemeliharaan.

b.  Penanganan Larva

1)  Persiapan  Bak

a)  Pencucian  Bak
b)  Pengisian  Air
Adapun  parameter  kualitas  air  yang  akan  digunakan  yaitu  sebagai  berikut:
(1)  Salinitas  29-31 ppt,  dengan  alat   monitoring  yaitu  refraktometer.
(2)  pH  7,5  dengan  alat  monitoring  yaitu  pH  meter.
(3)  Suhu  30-32 °C,  dengan  alat  monitoring  yaitu  thermometer  air  raksa
Kemudian  untuk  mencegah  timbulnya  penyakit  dan  hama  di  dalam  air,  maka  setelah  pengisian  air  dilakukanlah treatmen air  dengan cara sebagai berikut:
a.    memberikan kaporit dengan dosis 10 ppm dan diberi aerasi kuat-kuat selama ± 7-8 jam.
b.    Bak yang telah diberi kaporit selanjutnya diberi natrium thiosulfat sebanyak 5 ppm. Natrium thiosulfat dilarutkan dan ditebar pada bak yang telah dikaporit tersebut dan diberi aerasi kuat-kuat selama ± 3 - 4 jam.
c.    Setelah itu aerasinya dimatikan supaya kotorannya mengendap. Jika kotorannya sudah mengendap, air dipindahkan ke bak kosong dengan menggunakan pompa celup.
d.    Jika nauplius sudah siap dipindahkan ke bak pemeliharaan, maka dilakukanlah pemberian obat-obatan berupa EDTA dengan dosis 7,5 ppm, elbasin 1 ppm dan trevlan 0,5 ppm yang sudah dilarutkan satu persatu dan ditebar pada bak pemeliharaan.
e.    Nauplius siap dipindahkan.

c)  Pemasangan  terpal
Biasanya  yang  dapat  menurunkan  kualitas  air  yaitu  karena  adanya  kontaminasi  dari  luar,  maka  dari  itu  bak  harus  ditutup  dan  salah  satu    yang  dapat  digunakan  sebagai  penutup  yaitu  terpal. Terpal  yang  digunakan berwarna  gelap  agar  dapat  mengikat  dan  mempertahankan suhu air di dalam bak serta dapat menghalangi kontaminasi langsung dari  cahaya.
2)  Penebaran  Nauplius
Untuk  menghindari  terjadinya  stres  pada  nauplius  yang  ditebar,  maka  penebaran  dilakukan  pada  saat  suhu  rendah  yakni  pada  pagi  hari  antara  pukul  06:00  s/d  pukul  07.00.
3)  Pemeliharaan  Nauplius
Kegiatan  ini  dilakukan  agar  nauplius  yang  telah  ditebar  dapat  berkembang  dan  bertumbuh  dengan  baik  serta  memiliki  ketahanan  untuk  dibesarkan  di  unit-unit  pembesaran  udang.
Sebelum mencapai masa layak tebar  (tujuan pembesaran), nauplius  ini  terlebih  dahulu  melewati  tahap-tahap  perkembangan  (stadia)  selama  masa  pemeliharaan.  Adapun  stadianya  yaitu  Zoea,  Mysis  dan  Post  Larva  (PL),  yang  disetiap  stadianya  memilki  beberapa stage  yang  akan  berkembang  disetiap  harinya.
4)  Pemberian  Pakan
a.  Pakan  Buatan
Tabel 3. Jenis dan dosis pakan beserta saringan yang dipakai pada setiap stadia larva
No
Stadia larva
Jenis pakan
Dosis (gram)
Saringan (mess)
1
Nauplius

-
-
-
2
Zoea1 –Zoea3
-   RDN Ultradiet No.0
-   Microfine SP.
-  Vit. C
-  BK 505
20
200
3
Zoea Mysis1– Mysis3
-   RDN Ultradiet No. 1
-   Microfine SP
-   Vit. C
-   BK 505
60
200
4
Mysis PL – PL 2
-   RDN  Ultradiet No.2
-   Flakes
-   Microfine SP.
60
200
5
PL 3 – panen
-   RDN Ultradiet No.2
-   Flakes
-   Microfine SP.
-   Vit. C
-   BK 505
60
200

Adapun  waktu  dan  frekuwensi  pemberian  pakan  yang  telah  diikuti,  yaitu  sebagai  berikut:
·         Waktu            :  02.00, 06.00, 10.00, 14.00, 18.00, 22.00
·         Frekwensi      :  6  kali/hari.


b.  Pakan  Alami
(1)   Skeletonema  costatum
(2)   Artemia  Salina
Tabel 4. Jadwal dan jenis pakan pada setiap stadia larva.
Fase larva
Jenis pakan

Jadwal pemberian pakan
06.00
10.00
12.00

14.00
18.00
22.00
00.00
02.00
Zoea1
Skeletonema costatum
X
X

X
x
s/d
Artemia salina

Zoea3
Pakan buatan
X
x
X
X
x
X
Mysis1
Skeletonema costatum
X
X

X
x
s/d
Artemia salina

Mysis3
Pakan buatan
X
X
X
X
x
X
PL1
Skeletonema costatum
X

s/d
Artemia salina
x
X

X
x
PL6
Pakan buatan
x
X
X
X
x
X
PL7
Skeletonema costatum

s/d
Artemia salina
x
X

X
x
Panen
Pakan buatan
x
X
X
X
x
X

6.  Pengendalian  Hama  dan  Penyakit
Pada saat kegiatan pemeliharaan nauplius berlangsung tidak menuntut  kemungkinan akan munculnya penyakit akibat adanya microorganisme ataupun  kelainan  dasar  yang  akan  berdampak  negatif  pada  nauplius  yang sedang dipelihara.  Penyakit merupakan  hal  yang  perlu  diwaspadai, karena akan berdampak secara keseluruhan dan menyebabkan kematian  massal.
Untuk  mencegah  timbulnya  penyakit  tersebut, maka  yang  menjadi  salah  satu  jalan  keluar  yaitu  dengan  cara  pemberian  obat.  Teknik  pemberian  obat  yang  benar  dapat  menjadi  salah satu faktor  yang  akan  mempengaruhi  tingkat  efektifitas / fungsional  obat.

7.  Panen  dan  Pemasaran
1)  Panen
Panen terbagi atas dua, yaitu panen selektif dan panen total. Panen  selektif  akan  dilakukan  apabila  permintan  benur  dalam  jumlah  sedikit,  atau  dengan  kata  lain  permintan  benur  kurang  dari  jumlah  total  benur  dalam  bak.  Panen  total  akan  dilaksanakan  apabila  permintaan  benur  dalam  jumlah  yang  banyak,  yaitu  sesuai  atau  melebihi  jumlah  benur  di  dalam  bak.
2)  Pemasaran
Untuk  mendapatkan  kemudahan  dalam  pemasaran  dan  pengangkutan,  maka  terlebih  dahulu  dilakukan  pengemasan (packing).
Sebelum  dilakukan  pengangkutan,  terlebih  dahulu  dilakukan  pemeriksaan  jumlah  benur  yang  telah  dikemas  dengan  cara  mengambil  satu  kantong  benur  sebagai  sampel  dari  semua  benur  yang  telah  dikemas,  hal  ini  dilakukan  untuk  memastikan  bahwa  tidak  terjadi  kekurangan  atau  kelebihan  takaran  benur  dan  sekaligus  untuk  menentukan  harga  setiap  kantongnya  yang  dihitung  dari  harga  setiap  benur  yang  ada  di  dalam  kantong.

D. Interaksi pada Masyarakat

Adapun  interaksi  masyarakat  yang  dilakukan  oleh  Penyusun,  yakni  dapat  dikatakan  cukup  baik  yang  dikarenakan  dari  beberapa  faktor,  yaitu  sebagai  berikut:
a.    Adanya  citra  yang  baik  yang  dimiliki  oleh  pihak  perusahaan  terhadap  masyarakat  setempat.
b.    Adanya  respon  dan  sikap  keramahan  yang  baik  dari  masyarakat  setempat.
Hubungan  interaksi  masyarakat  yang  dilakukan  oleh  Penyusun  tidak  begitu  banyak,  karna padatnya kegiatan yang dilakukan di lokasi, hubungan interaksi biasa di lakukan Penyusun pada waktu sore dan malam hari disela-sela kegiatan.



IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A.  Kesimpulan

Setelah   melaksanakan   kegiatan   Praktik   Kerja   Lapang   (PKL)      di PT. Surya Monodon, maka dapat disimpulkan berbagai hal,  yaitu  sebagai  berikut:
1.    Penanganan  induk  terdiri  dari  beberapa  kegiatan,  yaitu  pengadaan  induk,  aklimatisasi,  ablasi,  pemeliharaan/pemijahan  induk,  peneluran  dan  penetasan  serta  pemanenan  nauplius.
2.    Pemeliharaan  nauplius  terdiri  dari  beberapa  kegiatan,  yaitu  penebaran nauplius, menejemen pakan, pemberian obat,  pengelolahan  kualitas  air  (sirkulasi  air),  pembukaan  terpal,  panen  dan  pemasaran.
3.    Monotoring  kualitas  air  dan  pencegahan  hama  dan  penyakit  serta  disiplin  kerja  dijadikan  sebagai  priorotas  utama  yang  harus  dijalankan.
4.    Faktor  kegagalan  usaha  bukan  hanya  disebabkan  karena  faktor  teknisnya  saja,  akan  tetapi  dapat  pula  disebabkan  dengan  adanya  kesenjangan  dan  penyimpangan  yang  terjadi  antara  pihak  perusahaan  dengan  masyarakat  setempat  maupun  di  pihak  perusahaan  itu  sendiri.
5.    Kondisi  lingkungan, yakni  letak  dan  potensi  wilayah  merupakan  faktor  yang  memiliki  peranan  penting  dalam  menentukan  keberhasilan  usaha  yang  dijalankan. 
6.    Keberhasilan  secara  teknis  kegiatan  produksi  dapat  dicapai  dengan  menerapkan  sistem  manajemen  yang  baik,  teknik yang  tepat,  prosedur  kerja  yang  efektif  dan  efisien  serta  sarana  dan  prasarana  yang  memadai.

B. Saran

Adapun saran yang sampaikan Penyusun adalah sebagai berikut:
1)  Fasilitas dan sarana produksi yang sudah tidak layak untuk di gunakan sebaiknya di ganti dengan yang baru.
2)  Melakukan kordinasi dengan para karyawan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
3)  Bekerja degan iklas dan penuh dengan tanggung jawab.
4)  Disiplin dan tepat waktu dalam bekerja.




DAFTAR PUSTAKA
Anonim.  1984.  Perkembangan Stadia Larva Udang. Erlangga, Jakarta
Martidjo. 2003. Kematangan Gonad Udang Windu. Agro Media Pustaka, Surabaya
Murtidjo.  2005.  Persyaratan udang windu. Gramedia Pustaka, Jakarta

3 komentar:

  1. Apa bila benur udang berumur PL 1-pamen dan mengalami gagguan air berubah tingkat ke asaman tinggi..bagai mana cara penanggulangan y..?...trm ksih atas kwbn y...

    BalasHapus
  2. maaf,,lagi butuh ilmunya,
    kalau bisa tambahin ukuran bak yg digunakan, skalian tinggi air ygdibutukan,mksih

    BalasHapus