TEKNIK
PERBENIHAN UDANG WINDU
( Penaeus
monodon Fabr. )
DI PT. SURYA MONODON
KABUPATEN TAKALAR
Oleh : Haerti
Dibimbing oleh : Muhammad Syahrir, SP, M.Si dan Zeth
Tandiboyong, S.Pd
Abstrak : Usaha perbenihan
udang windu merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah maupun
swasta untuk memenuhi kebutuhan benur sekaligus menjaga kelestarian udang di
alam. Sehingga hadirnya usaha perbenihan (hatchery)
udang ini sangat berperan dalam penyediaan benur dengan kualitas yang baik dan
jumlah yang memadai.
I.PENDAHULUAN
Udang
windu merupakan komoditi ekspor yang dapat menghasilkan
devisa negara karena
memiliki nilai ekonomi
yang sangat tinggi. Sejalan dengan berkembangnya usaha
budidaya udang windu di Indonesia, maka kebutuhan benur juga cenderung
mengalami peningkatan. Oleh karena itu untuk memenuhi permintaan benur yang berkulitas maka perlu adanya
usaha yang dapat
memenuhi permintaan konsumen.
Untuk mengetahui
usaha perbenihan udang windu tersebut, maka siswa SUPM Negeri Bone perlu
melakukan Praktik Kerja
Lapang (PKL) pada unit-unit usaha perbenihan udang windu
dari skala kecil ( back yard ) sampai skala besar ( hatchery ).
Perbenihan
udang windu merupakan salah satu jenis usaha yang berupaya memenuhi kebutuhan benur bagi
pembudidaya udang windu. Maka dari itu untuk mengembangkan suatu usaha,
khususnya perbenihan udang windu sangat dibutuhkan tenaga terampil dan
berpengalaman.
PT.
Surya Monodon adalah salah satu hatchery
di Kabupaten Takalar yang cukup berhasil dalam usaha perbenihan udang windu dan
telah berperan dalam penyediaan benur para petani tambak maupun usaha
peggelondongan di daerah Kabupaten Takalar dan daerah-daerah lain.
Atas
dasar itulah yang menarik bagi Penyusun untuk
memilih karya tulis yang berjudul “Usaha Perbenihan Udang Windu ( Penaeus monodon Fabr. ) di Hatchery PT. Surya Monodon
Kabupaten Takalar.
A.
Rencana Kegiatan
Adapun
rencana kegiatan yang Penyusun laksanakan di PT. Surya Monodon adalah sebagai berikut
:
1. Persiapan
2. Pengadaan induk
3. Pemeliharaan induk
4. Ablasi
5. Pemeriksaan ovary
6. Peneluran dan penetasan
7. Penebaran naupli
8. Pemeliharaan larva
9. Panen dan pemasaran
B.
Jadwal Kegiatan
Kegiatan-kegiatan
yang Penyusun laksanakan selama mengikuti Praktik Kerja Lapang (PKL) yaitu di
PT. Surya Monodon Takalar. Berdasarkan rencana kegiatan di atas dapat dilihat
pada jadwal kegiatan di bawah ini:
Tabel
1. Jadwal kegiatan di Hatchery PT. Surya Monodon
|
No
|
Kegiatan
|
Tahun 2013
|
|||||||||||||||
|
Februari
|
Maret
|
April
|
Mei
|
||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
1
|
Persiapan
|
x
|
X
|
x
|
x
|
x
|
x
|
||||||||||
|
2
|
Pengadaan Induk
|
x
|
x
|
x
|
|||||||||||||
|
3
|
Pemeliharaan Induk
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
|||||||||
|
4
|
Ablasi
|
x
|
x
|
x
|
|||||||||||||
|
5
|
Pemeriksaan Ovari
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
||||||||||
|
6
|
Peneluran dan
Penetasan
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
X
|
||||||||||
|
7
|
Penebaran Nauplius
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
X
|
|||||||||
|
8
|
Pemeliharaan larva
|
X
|
X
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
X
|
||
|
9
|
Panen dan pemasaran
|
X
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
x
|
|||||||||
C.
Potensi wilayah
Potensi
wilayah di
sekitar lokasi Penyusun mengadakan Praktek Kerja Lapang ( PKL
) di PT. Surya Monodon dapat
dikatakan cukup potensial
jika ditinjau dari beberapa
aspek, aspek-aspek tersebut merupakan faktor
pendukung. Aspek-aspek tersebut yakni aspek teknis,
aspek ekonomi dan
aspek sosial budaya.
1.
Aspek
Teknis
Aspek teknis yang
dapat menunjang unit usaha ini ialah sebagai
berikut:
1)
Sangat
dekat dengan sumber
air laut, sehingga
memudahkan dalam pengadaan air laut untuk media hidup udang.
2)
Jaraknya jauh dari muara dan sungai,
sehingga terhindar dari
pencemaran (limbah, sampah dan lain-lain)
dan terjadinya erosi.
2.
Aspek
Ekonomi
Letak
hatchery PT. Surya Monodon memudahkan
dalam hal pemasaran benur karena
jalan yang dilalui
cukup bagus serta sarana
transportasi yang menunjang. Disamping itu, pembeli yang datang
dari daerah-daerah yang jauh tidak
kesulitan untuk memperoleh
benur yang berkualitas
dan dalam jumlah
yang banyak.
Di lokasi Penyusun melaksanakan PKL, banyak
didirikan unit-unit perbenihan udang, sehingga menyebabkan
ketatnya persaingan dalam
hal pemasaran. Sehingga
produk yang unggul
dan jumlah yang
banyak menjadi suatu
tuntutan utama yang
harus dipenuhi. Kenyataan yang
ada, benur dari PT. Surya Monodon sangat diminati oleh konsumen. Hal ini sangat
menguntungkan perusahaan, karena benur yang diproduksi selalu laku terjual
dengan laba perusahaan yang selalu positif setiap akhir periode.
3.
Aspek
Sosial Budaya
Keberadaan perusahaan di daerah ini telah mendapatkan sambutan
dari masyarakat setempat dengan respon yang baik, karena memberikan keuntungan
bagi masyarakat setempat
baik yang bergerak
di bidang perikanan
maupun di luar
kegiatan perikanan.
A. Waktu
dan Tempat
Waktu PKL ini dilaksanakan pada awal semester ganjil
Tahun Pelajaran 2012
/
2013, yaitu bulan Februari sampai dengan bulan Mei 2013.
Adapun
tempat yang telah
ditentukan untuk dijadikan
sebagai lokasi kegiatan Praktik Kerja Lapang bagi Penyusun
adalah di PT. Surya Monodon
yang berlokasi di
daerah:
a.
Dusun :
Sawakung
b.
Desa :
Tamasaju
c.
Kecamatan : Galesong Utara
d.
Kabupaten : Takalar
e.
Propinsi : Sulawesi
Selatan
B. Keadaan Lokasi
a.
Topografi
Topografi adalah
ketinggian atau jarak
suatu tempat. Adapun topografi
dari PT. Surya Monodon yaitu
berjarak 10 meter
dari laut jika
diukur pada saat
pasang terendah dan saat
pasang tertinggi dengan
permukaan yang datar
dan terhindar dari
bahaya erosi.
b.
Hidrologi
Perusahaan ini
memiliki jarak yang
sangat dekat dengan
laut, sehingga terdapat
kemudahan dalam hal
pengadaan air laut yang
berfungsi sebagai media
hidup udang. Parameter kualitas
air lautnya yakni
salinitas 29-30 ppt, pH 7,5
dan suhu 30-32°C.
Kendala hidrologi yang dihadapi oleh
perusahaan adalah dalam
hal pengadaan air
tawar, kendala tersebut
disebabkan karena adanya
pengaruh kadar garam
air laut terhadap
ketawaran sumber air
tanah, maka dari itu perusahaan mengambil air sumur bor dengan jarak 200
meter dari laut.
C. Kegiatan-kegiatan
1.
Persiapan
a.
Penyediaan Sarana
dan Prasarana
Kegiatan ini
adalah salah satu
kegiatan yang terdiri
dari dua kegiatan
yakni pengecekan dan
penanganan / perbaikan
sarana dan prasarana
yang akan menunjang
kegiatan yang akan
berlangsung.
b.
Persiapan Sand Filter
Sand
filter menentukan
bagus atau tidaknya kualitas
air laut yang
akan digunakan. Komponen-komponen
sand filter, yaitu:
1)
Arang
Arang yang digunakan yaitu arang batok
kelapa yang mengandung karbon aktif dan
berfungsi untuk menyerap kandungan logam berat yang terkandung di dalam air.
2)
Pasir
Pasir
yang digunakan adalah pasir kwarsa yang berwarna putih yang
berfungsi untuk menyaring kotoran dan
partikel yang ada di dalam air.
c.
Persiapan Fasilitas
Lainnya
Fasilitas lainnya
seperti mesin Generator
Set (Genset) yang
berfungsi sebagai cadangan
sumber listrik apabila
listrik dari PLN
tidak aktif, heater (pemanas)
yang berfungsi untuk
mempertahankan suhu air
pada media pemeliharaan dan untuk
membantu dalam proses
penetasan telur agar
suhu tetap optimal,
monitoring kualitas air
untuk mengetahui parameter
kualitas air, biosecurity di setiap
pintu masuk, dan
disiapkan pula ember,
baskom, peralatan monitoring
kualitas air, bahan
dan alat panen,
alat perbaikan (perkakas)
serta peralatan kerja
lainnya harus dipersiapkan dengan baik, agar tidak terjadi
masalah dalam berlangsungnya kegiatan.
d.
Persiapan Bak
Bak adalah
wadah atau tempat
ditampungnya air, di
mana air ini
yang akan digunakan
dalam kegiatan produksi
sebagaimana mestinya. Sehingga
baik buruknya kualitas
air yang akan
digunakan tergantung dari
kualitas bak-bak yang
akan digunakan.
1)
Pencucian Bak
Untuk
mendapatkan bak yang
bersih haruslah dilakukan
kegiatan pencucian bak,
yang bertujuan untuk
membersihkan sisa-sisa kotoran
dan kaporit yang
telah ditebar pada
saat pengeringan.
2)
Pemasangan Aerasi
Aerasi adalah salah satu alat untuk
menyuplai oksigen ke
dalam air, menguapkan
zat-zat dan gas-gas
beracun di dalam air,
mengaduk air sehingga
larutan pupuk, pakan
dan obat-obatan yang
diberikan dapat merata
ke seluruh bagian
bak. Komponen aerasi terdiri atas kran udara, selang aerasi, pemberat
dan pemecah udara.
e.
Pengadaan Air
Laut
Air
laut merupakan media hidup bagi udang windu
( induk dan benur ) yang
akan dipelihara, maka
dari itu persediaan
air laut harus
terus disiapkan.
2. Penanganan Induk
dan Larva
a.
Penanganan Induk
Induk yang
digunakan di hatchery ini
adalah induk yang berasal dari
Aceh. Adapun ciri-ciri induk yang sehat adalah sebagai berikut:
· Kesehatan: organ
tubuh tidak cacat, alat kelamin tidak cacat, tubuh bersih, tidak ada tanda
terserang penyakit, tidak luka, insang normal, tidak bengkak, tidak berlendir.
· Kekenyalan
tubuh: tidak keropos, tidak lembek.
· Gerakan: Gerak
aktif, kaki dan ekor memebuka bila dalam air.
· Ukuran untuk jantan, yaitu panjang 15-20 cm, berat
70-80 gram. Untuk betina, yaitu panjang 17-24 cm, berat 100-120 gram.
a)
Persiapan Bak
Kegiatan ini bertujuan
untuk memastikan bahwa
bak tetap dalam
keadaan bersih untuk
digunakan, yaitu dilakukan
dengan cara pencucian
bak.
b)
Penebaran Induk
Untuk
mendapatkan keefektifan dan keefisienan dalam kegiatan pemeliharaan
induk, maka jumlah
padat tebar yang
optimal menjadi tuntutan utama yang harus dipenuhi. Induk
yang digunakan adalah betina.
Jumlah induk semua adalah 145 ekor.
c)
Manajemen Pakan
Tabel 2. Daftar pemberian pakan induk
|
o
1
2
|
Jenis
Pakan
|
Dosis
|
Frekwens
|
Pukul
|
|
|
Cumi-cumi
|
3 kg
|
1 kali/hari
|
06:00
|
||
|
Kerang/tiram
|
3 kg
|
1 kali/hari
|
17:00
|
||
|
Total
|
6 kg
|
2 kali/hari
|
|
||
Untuk lebih menambah
kualitas kondisi tubuh
induk maka setiap
pemberian pakan pada
pagi harinya, yakni
pakan cumi-cumi dicampur
dengan vit. C1000
dan B12.
d) Pengelolaan Kualitas Air
Kegiatan ini dilakukan
dengan tujuan untuk
menjaga kestabilan kualitas
air pada bak
pemeliharaan induk, yang dilakukan
dengan cara sirkulasi.
3. Ablasi
Ablasi merupakan teknik ransangan buatan pada induk
betina udang windu. Prinsip dari ablasi ini adalah untuk mempercepat
perkembangan kematangan gonad pada udang.
Cara ablasi di PT. Surya Monodon yaitu dengan mengikat
salah satu tangkai mata dengan karet gelang yang sudah disiapkan. Adapun cara kerja
ablasi mata yang dilakukan Penyusun di lokasi, yaitu:
· Menyiapkan alat dan bahan berupa karet gelang.
· Induk
ditangkap dengan menggunakan scopnet.
· Karet gelang diikatkan pada salah satu tangkai
mata udang dengan erat.
· Kemudian disimpan di bak pemeliharaan.
4.
Pemijahan Induk
Perkawinan udang windu terjadi
pada saat setelah
induk betina ganti kulit (Moulting), dengan terjadinya ganti kulit tersebut menyebabkan tubuh
udang menjadi lembek
dan pada saat itu alat
kelamin betina akan
mudah terbuka, sehingga
memudahkan induk jantan
menyisipkan spermatozoa dan kegiatan
ini terjadi pada
malam hari.
5. Pemeriksaan Ovary
Kegiatan
ini dilakukan untuk memastikan bahwa induk telah mencapai masa / waktu untuk
bertelur.
Tingkat kematangan gonad udang, yaitu:
·
Tingkat I : Garis ovary tampak
seperti garis lurus
pada bagian abdomen dan
berwarna hijau kehitaman.
·
Tingkat II : Garis ovary terlihat
jelas dan tebal,
terdapat satu tonjolan/gelembung pada
bagian dorsal abdomen.
·
Tingkat III : Garis ovary semakin tebal dan jelas (Matang) dan
terdapat dua tonjolan/ gelembung pada bagian dorsal
abdomen, dan meluas sampai bagian kepala serta
membentuk seperti bulan sabit.
·
Tingkat IV : Telur telah
dilepaskan, ovary kosong
dan terlihat pucat.
1.
Peneluran Induk
Induk betina
akan bertelur antara
pukul 22:00 sampai
pukul 04:00, yang akan bertelur
biasanya akan tampak berenang gelisah di permukaan air, induk yang telah melepaskan telurnya
segera diangkat keluar menggunakan
seser, guna untuk menghindari agar induk tidak memakan telurnya.
2.
Penetasan Telur
Telur udang windu
akan menetas setelah
13 jam, agar
telur tidak mengendap maka dilakukan pengadukan telur
setiap 1 jam dan menempatkan aerasinya ditengah-tengah bak. Suhunya dijaga agar
tetap stabil yaitu 30-32ºC dengan
menggunakan thermometer.
3.
Panen
Nauplius
Panen nauplius di PT. Surya Monodon, yaitu
sebagai berikut:
·
Nauplius didiamkan
tanpa aerasi.
·
Setelah beberapa
saat nauplius akan berenang di
permukaan.
·
Kemudian dilakukan
penyeseran dengan ukuran
seser 200 mesh di
dalam bak, sampai
nauplius yang
ada di dalam
bak habis.
·
Nauplius siap
untuk ditebar ke
bak pemeliharaan.
b.
Penanganan
Larva
1)
Persiapan Bak
a)
Pencucian Bak
b)
Pengisian Air
Adapun parameter
kualitas air yang
akan digunakan yaitu
sebagai berikut:
(1)
Salinitas 29-31 ppt, dengan
alat monitoring yaitu refraktometer.
(2)
pH
7,5 dengan alat
monitoring yaitu pH
meter.
(3)
Suhu
30-32 °C, dengan alat
monitoring yaitu thermometer air
raksa
Kemudian untuk
mencegah timbulnya penyakit
dan hama di
dalam air, maka
setelah pengisian air
dilakukanlah treatmen air dengan
cara sebagai berikut:
a. memberikan kaporit dengan dosis 10 ppm dan diberi
aerasi kuat-kuat selama ± 7-8 jam.
b. Bak yang telah diberi kaporit selanjutnya diberi natrium thiosulfat sebanyak 5 ppm. Natrium thiosulfat dilarutkan dan
ditebar pada bak yang telah dikaporit tersebut dan diberi aerasi kuat-kuat
selama ± 3 - 4 jam.
c. Setelah itu aerasinya dimatikan supaya kotorannya
mengendap. Jika kotorannya sudah mengendap, air dipindahkan ke bak kosong
dengan menggunakan pompa celup.
d. Jika nauplius sudah
siap dipindahkan ke bak pemeliharaan, maka dilakukanlah pemberian obat-obatan
berupa EDTA dengan dosis 7,5 ppm, elbasin
1 ppm dan trevlan 0,5 ppm yang sudah
dilarutkan satu persatu dan ditebar pada bak pemeliharaan.
e. Nauplius siap dipindahkan.
c)
Pemasangan terpal
Biasanya yang
dapat menurunkan kualitas
air yaitu karena
adanya kontaminasi dari
luar, maka dari
itu bak harus
ditutup dan salah
satu yang dapat
digunakan sebagai penutup
yaitu terpal. Terpal yang digunakan berwarna gelap agar dapat
mengikat dan mempertahankan suhu air
di dalam bak serta dapat menghalangi kontaminasi langsung dari cahaya.
2)
Penebaran Nauplius
Untuk menghindari
terjadinya stres pada nauplius
yang ditebar, maka
penebaran dilakukan pada
saat suhu rendah
yakni pada pagi
hari antara pukul 06:00 s/d
pukul 07.00.
3)
Pemeliharaan Nauplius
Kegiatan ini
dilakukan agar nauplius yang
telah ditebar dapat
berkembang dan bertumbuh
dengan baik serta
memiliki ketahanan untuk
dibesarkan di unit-unit
pembesaran udang.
Sebelum
mencapai masa layak tebar (tujuan
pembesaran), nauplius ini
terlebih dahulu melewati
tahap-tahap perkembangan (stadia) selama
masa pemeliharaan. Adapun
stadianya yaitu Zoea, Mysis dan Post Larva (PL),
yang disetiap stadianya
memilki beberapa stage yang
akan berkembang disetiap
harinya.
4)
Pemberian Pakan
a. Pakan Buatan
Tabel 3. Jenis dan dosis pakan beserta
saringan yang dipakai pada setiap stadia larva
|
No
|
Stadia
larva
|
Jenis pakan
|
Dosis (gram)
|
Saringan (mess)
|
|
1
|
Nauplius
|
-
|
-
|
-
|
|
2
|
Zoea1 –Zoea3
|
-
RDN Ultradiet No.0
-
Microfine SP.
- Vit. C
- BK 505
|
20
|
200
|
|
3
|
Zoea Mysis1– Mysis3
|
-
RDN Ultradiet No. 1
-
Microfine SP
-
Vit. C
-
BK 505
|
60
|
200
|
|
4
|
Mysis PL – PL 2
|
-
RDN
Ultradiet No.2
-
Flakes
-
Microfine SP.
|
60
|
200
|
|
5
|
PL 3 – panen
|
-
RDN Ultradiet No.2
-
Flakes
-
Microfine SP.
-
Vit. C
-
BK 505
|
60
|
200
|
Adapun waktu
dan frekuwensi pemberian
pakan yang telah
diikuti, yaitu sebagai
berikut:
·
Waktu : 02.00, 06.00, 10.00, 14.00, 18.00, 22.00
·
Frekwensi : 6 kali/hari.
b.
Pakan
Alami
(1)
Skeletonema costatum
(2)
Artemia Salina
Tabel 4. Jadwal dan jenis pakan pada setiap
stadia larva.
|
Fase larva
|
Jenis pakan
|
|
Jadwal pemberian pakan
|
|||||||
|
06.00
|
10.00
|
12.00
|
14.00
|
18.00
|
22.00
|
00.00
|
02.00
|
|||
|
Zoea1
|
Skeletonema costatum
|
X
|
X
|
|
X
|
x
|
||||
|
s/d
|
Artemia salina
|
|
||||||||
|
Zoea3
|
Pakan buatan
|
X
|
x
|
X
|
X
|
x
|
X
|
|||
|
Mysis1
|
Skeletonema costatum
|
X
|
X
|
|
X
|
x
|
||||
|
s/d
|
Artemia salina
|
|
||||||||
|
Mysis3
|
Pakan buatan
|
X
|
X
|
X
|
X
|
x
|
X
|
|||
|
PL1
|
Skeletonema costatum
|
X
|
|
|||||||
|
s/d
|
Artemia salina
|
x
|
X
|
|
X
|
x
|
||||
|
PL6
|
Pakan buatan
|
x
|
X
|
X
|
X
|
x
|
X
|
|||
|
PL7
|
Skeletonema costatum
|
|
||||||||
|
s/d
|
Artemia salina
|
x
|
X
|
|
X
|
x
|
||||
|
Panen
|
Pakan buatan
|
x
|
X
|
X
|
X
|
x
|
X
|
|||
6. Pengendalian Hama
dan Penyakit
Pada
saat kegiatan pemeliharaan nauplius berlangsung
tidak menuntut kemungkinan akan
munculnya penyakit akibat adanya
microorganisme ataupun kelainan dasar
yang akan berdampak
negatif pada nauplius yang sedang dipelihara. Penyakit merupakan hal yang perlu
diwaspadai, karena akan berdampak secara keseluruhan dan menyebabkan
kematian massal.
Untuk mencegah
timbulnya penyakit tersebut, maka yang menjadi salah
satu jalan keluar
yaitu dengan cara
pemberian obat. Teknik
pemberian obat yang
benar dapat menjadi
salah satu faktor yang akan
mempengaruhi tingkat efektifitas / fungsional obat.
7. Panen
dan Pemasaran
1)
Panen
Panen
terbagi atas dua, yaitu panen selektif dan panen total. Panen selektif
akan dilakukan apabila
permintan benur dalam
jumlah sedikit, atau
dengan kata lain
permintan benur kurang
dari jumlah total
benur dalam bak.
Panen total akan
dilaksanakan apabila permintaan
benur dalam jumlah
yang banyak, yaitu
sesuai atau melebihi
jumlah benur di
dalam bak.
2)
Pemasaran
Untuk mendapatkan
kemudahan dalam pemasaran
dan pengangkutan, maka
terlebih dahulu dilakukan
pengemasan (packing).
Sebelum dilakukan
pengangkutan, terlebih dahulu
dilakukan pemeriksaan jumlah
benur yang telah
dikemas dengan cara
mengambil satu kantong
benur sebagai sampel
dari semua benur
yang telah dikemas,
hal ini dilakukan
untuk memastikan bahwa
tidak terjadi kekurangan
atau kelebihan takaran
benur dan sekaligus
untuk menentukan harga
setiap kantongnya yang
dihitung dari harga
setiap benur yang
ada di dalam
kantong.
D. Interaksi pada Masyarakat
Adapun interaksi
masyarakat yang dilakukan
oleh Penyusun, yakni
dapat dikatakan cukup
baik yang dikarenakan
dari beberapa faktor,
yaitu sebagai berikut:
a.
Adanya
citra yang baik
yang dimiliki oleh
pihak perusahaan terhadap
masyarakat setempat.
b.
Adanya
respon dan sikap
keramahan yang baik
dari masyarakat setempat.
Hubungan interaksi
masyarakat yang dilakukan
oleh Penyusun tidak
begitu banyak, karna padatnya kegiatan yang dilakukan di lokasi,
hubungan interaksi biasa di lakukan Penyusun pada waktu sore dan malam hari disela-sela
kegiatan.
A. Kesimpulan
Setelah melaksanakan kegiatan
Praktik Kerja Lapang (PKL) di PT. Surya Monodon,
maka dapat disimpulkan berbagai hal,
yaitu sebagai berikut:
1.
Penanganan induk
terdiri dari beberapa
kegiatan, yaitu pengadaan
induk, aklimatisasi, ablasi,
pemeliharaan/pemijahan
induk, peneluran dan
penetasan serta pemanenan
nauplius.
2.
Pemeliharaan nauplius terdiri
dari beberapa kegiatan,
yaitu penebaran nauplius, menejemen pakan, pemberian
obat, pengelolahan kualitas
air (sirkulasi air),
pembukaan terpal, panen
dan pemasaran.
3.
Monotoring kualitas
air dan pencegahan
hama dan penyakit
serta disiplin kerja
dijadikan sebagai priorotas
utama yang harus
dijalankan.
4.
Faktor kegagalan
usaha bukan hanya
disebabkan karena faktor
teknisnya saja, akan
tetapi dapat pula
disebabkan dengan adanya
kesenjangan dan penyimpangan
yang terjadi antara
pihak perusahaan dengan
masyarakat setempat maupun
di pihak perusahaan
itu sendiri.
5.
Kondisi lingkungan, yakni letak
dan potensi wilayah
merupakan faktor yang
memiliki peranan penting
dalam menentukan keberhasilan
usaha yang dijalankan.
6.
Keberhasilan secara
teknis kegiatan produksi
dapat dicapai dengan
menerapkan sistem manajemen
yang baik, teknik yang
tepat, prosedur kerja
yang efektif dan
efisien serta sarana dan
prasarana yang memadai.
B. Saran
Adapun saran yang sampaikan Penyusun
adalah sebagai berikut:
1)
Fasilitas dan sarana produksi yang
sudah tidak layak untuk di gunakan sebaiknya di ganti dengan yang baru.
2)
Melakukan kordinasi dengan para
karyawan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
3)
Bekerja degan iklas dan penuh dengan
tanggung jawab.
4)
Disiplin dan tepat waktu dalam bekerja.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1984. Perkembangan Stadia Larva Udang. Erlangga,
Jakarta
Martidjo.
2003. Kematangan Gonad Udang Windu.
Agro Media Pustaka, Surabaya
Murtidjo. 2005. Persyaratan udang windu. Gramedia
Pustaka, Jakarta
Apa bila benur udang berumur PL 1-pamen dan mengalami gagguan air berubah tingkat ke asaman tinggi..bagai mana cara penanggulangan y..?...trm ksih atas kwbn y...
BalasHapusmaaf,,lagi butuh ilmunya,
BalasHapuskalau bisa tambahin ukuran bak yg digunakan, skalian tinggi air ygdibutukan,mksih
kak bisa di copas?
BalasHapus